Tuesday, November 08, 2005

Hukum Anak Angkat dan Status Kemuhrimannya

Pertanyaan:

Assalaamu'alaikum wr wb

Pak Ustadz, saya mau tanya bagaimana hukumnya mengangkat anak dalam Islam dan status kemuhrimannya?
Jazakallahu khair.


Wassalaamu'alaikum wr wb



Wini


Jawaban:

Assalamu’alaikum

Kullu sanah wa antum bikhair wa wafaqonallah ila
aqwamithariq, amin.

Ini jawaban tentang hukum mengangkat anak dan status
kemuhrimannya, semoga bisa memberi solusi walau belum
tentu sempurna karena kesempurnaan itu hanya milik
Allah.

Sengaja ana tidak membahas masalah batasan muhrim dan
non muhrim karna hal itu mungkin sudah tidak
memerlukan lagi penjelasan, seperti halnya batasan ke
non-muhriman anak angkat.

Demikian dulu dari ana, atas segala kekurangan dan
kesalahannya mohon maaf.


Wassalam
Akhukum fillah
Cecep Solehudin

Hukum Anak Angkat Dan Status Kemuhrimannya


Nasab (keturunan karena pertalian darah) adalah pondasi ikatan keluarga yang paling kuat yang bisa menyatukan anggotanya secara permanen dengan berdasarkan pada kesamaan darah, gen dan turunan. Seorang anak adalah bagian dari bapaknya dan begitu pula seorang bapak adalah bagian dari anaknya.


Ikatan nasab adalah sulaman keluarga yang sangat kokoh dan mempunyai ikatan yang sangat kuat karena dengannya lahirlah perasaan sayang dan rasa memiliki antara anggotanya. Oleh karena itu Allah telah mengkokohkan keberadaan manusia dengan nasab sebagaimana disebutkan dalam firmanNya: {Dan Dia yang menciptakan manusia dari air, lalu diadakannya pertalian darah dan hubungan perkawinan, dan Tuhan itu Maha Kuasa} Al Furqon: 54.


Oleh karena itu, Islam melarang seorang bapak untuk mengingkari penisbatan anaknya kepadanya, dan melarang seorang ibu untuk menisbatkan anaknya kepada orang yang yang bukan bapaknya. Begitu pula Islam melarang menisbatkan anak-anak kepada orang yang bukan bapaknya. Dalam hal ini Rasulullah saw bersabda: {Barang siapa yang menisbatkan anak kepada orang tua yang bukan bapaknya padahal ia tahu bahwa ia adalah bukan bapaknya, maka surga haram baginya} HR. Ahmad, Bukhori, Muslim, Abu Daud dan Ibnu Majah. Dalam sabda lain disebutkan: {Barang siapa yang menisbatkan anaknya kepada orang yang bukan bapaknya atau membuat pengabdian (mawali) bukan kepada majikan aslinya, maka ia akan mendapatkan kutukan yang berkelanjutan sampai hari kiamat}. HR. Abu Daud.


Berangkat dari uraian di atas, jelaslah bahwa Islam telah melarang sistem tabanny (mengangkat anak) dan membatalkan sistem yang telah dipraktekkan pada masa jahiliyah dan masa awal Islam itu.


Rasulullah saw sebelum masa kenabian telah mengangkat Zaid bin Haritsah sebagai anak angkatnya, kemudian setelah itu, orang-orang memanggilnya nama “ Zaid bin Muhammad”.


Zaid bin Haritsah adalah seorang hamba sahaya dari suku Kalb yang dibeli Hakim bin Hizam untuk dihadiahkan kepada Bibinya Siti khadijah, kemudian ketika Siti Khadijah menikah dengan Nabi Muhammad, ia menghadiahkannya kepada suaminya. Pada saat Bapak Zaid dan pamannya datang untuk meminta Rasulullah menyembalikannya, Rasulullah saw memberikan kebebasan kepada Zaid untuk memilih antara keluarganya atau bersamanya tapi Zaid memilih untuk tetap bersama Rasulullah saw, kemudian beliau membebaskannya. Sejak itulah orang-orang memanggilnya Zaid bin Muhammad.
Tapi keadaan itu tidak berlangsung lama, karena Allah swt telah menurunkan perintahnya yang melarang sistem tabanny dan membatalkan prakteknya, dalam firmanNya: {...dan tiada pula anak angkatmu menjadi anakmu. Itu hanyalah perkataanmu dengan mulutmu saja. Allah mengatakan kebenaran dan Dia menunjukkan jalan (yang benar). Panggillah mereka (anak-anak angkat) menurut (nama) bapaknya, hal itu lebih adil pada sisi Allah. Kalau kamu tiada mengetahui bapaknya, mereka menjadi saudara kamu dalam agama dan maula (pengabdi) kamu} Al Ahzab: 4-5.
Kemudian larangan dan pembatalan itu dipertegas lagi dalam bentuk perintah Allah kepada nabiNya untuk menikahi janda bekas anak angkatnya, hal itu untuk menghapus kebiasaan dan dampak dari status anak angkat karena dengan mempersunting janda bekas anak angkatnya, hilangnya bekas dan status keanakangkatannya Zaid bin Haritsah. firmanNya: {Dan setelah Zaid menyampaikan keperluannya kepada perempuannya itu (menceraikannya). Kami kawinkan dia dengan engkau supaya (di masa datang) tiada keberatan lagi bagi orang-orang yang beriman (mengawini) isteri-isteri anak angkat mereka, apabila mereka telah menyampaikan kepada perempuan-perempuan itu keperluannya (menceraikannya). Dan perintah Allah itu mestilah dijalankan} Al ahzab: 37.


Larangan untuk mengangkat anak dan menjadikannya sebagai anak sendiri adalah sebagai bentuk keadilan dan kebenaran yang harus ditegakan untuk semua pihak, dan hal itu bukan untuk menghalangi umat Islam dalam membantu dan meringankan beban orang lain atau dalam melakukan kebaikan lain, secara khususnya dalam mengurus dan mendidik anak yang tidak ber-orang tua atau mengurus dan mendidik anak yang orang tuanya tidak mampu. Hal itu bisa dilakukan melalui sistem yang disebut dengan istilah takaful atau kafil (pengasuh) anak yang tidak ber-orang tua atau yang berorang tua tapi tidak mempunyai kemampuan mendidik dan mengurusnya.
Menjadi seorang kafil adalah prilaku yang sangat mulya dan mendapatkan kedudukan yang maha tinggi, hal itu terungkap dalam sabda Rasulullah saw: {saya dan kafil/pengasuh anak yatim berada di surga seperti ini, beliau menunjukan telunjuk dan jari tengahnya...} HR. Bukhory.


Menjadi kafil anak yang tidak mampu atau menjadi kafil bagi anak yang tidak ber-orang tua adalah alternatif dari menjadi bapak angkat. Menjadi kafil berbeda maknanya dengan menjadi bapak angkat karena menjadi kafil adalah mendidik anak dan mengurus sampai mereka menjadi anak yang dewasa dan mampu tanpa menjadikana anak tersebut sebagai anak kandungnya dan menyamakannya dalam warisan, gen, pertalian darah serta menisbatkan nama anak kepadanya seolah sebagai anak kandungnya (bapak asli). Biarkanlah ia tetap menisbatkan namanya kepada bapaknya yang asli dan mendapatkan limpahan rizkinya dari kedermawanan bapak pengasuhnya sebagai sedekah dan bukan sebagai warisan karena anak asuh (atau yang dikenal dengan anak angkat) adalah bukan anak kandung dan berbeda dengan anak kandung dalam banyak hal.


Karena anak asuh (anak angkat) bukan sebagai anak sendiri, maka diapun harus diperlakukan sebagai orang non muhrim apabila ia hidup bersama kita (kecuali apabila ia diberi susu –ASI- sejak kecil) walaupun mempunyai kedekatan emosional kasih sayang yang sangat dekat, tapi tetap saja dia adalah non muhrim bagi orang tua asuhnya.


Maka apabila ia telah menjadi dewasa, maka perlakukanlah dia seperti non muhrim, baik dalam hal pernikahan, menjaga aurat, menjaga pergaulan dan lainnya.
Apabila ia masih tetap tinggal bersama orang tua asuhnya, maka hal-hal di atas tetap harus diperhatikan dan ditaati. Dan itu bisa dilakukan tanpa berjauhan selama komitmen menjalankan syariat tertanam dalam jiwanya.


Wallahu a’lam.


Reference:
- DR. Wahbah Juhaily, Al fiqh Al Islamy wa Adilllatuhu.
- Az Zamahsyary, Tafisr al Kasyaaf.

Sholat Qosor

Pertanyaan:

Assalaamu'alaikum Ustadz,

Saya ingin bertanya tentang meringkas sholat dan kaitannya dengan musyafir. Benarkah orang yang study ke negara lain seumpama setahun diperbolehkan menjamak sholatnya selama kurun itu, ada pendapat dari teman yang mengatakan dibolehkan. Dan bagaimana batasan menjadi musyafir sebenarnya.

Jazakallahu khair atas jawabannya.

Wassalamu'alaikum wr. wb.
-akhwat-



Jawaban:

Assalamu ‘alaikum wr. Wb.

Kullu sanah wa antum thayibun.

Selamat menjalankan ibadah shaum. Ini, jawaban tentang konsultasi sholat qosor, semoga bermanfaat. Mohon maaf bila ada kurang atau kesalahan dan ini bukan sebagai kebenaran mutlak yang mengingkari kebenaran dari orang lain. Tapi insyaAllah ini adalah pendapat yang didasarkan pada Al Quran dan Al hadits.



Demikian saja.

Wassalam
Cecep S



Masalah seputar mengqosor sholat Dasar hukum mengqoshor sholat Firman Allah; {Dan kalau kamu berjalan di muka bumi, tidaklah mengapa meringkaskan (mengqasar) sembahyang...} QS. An Nisa: 101.


Meringkas sholat dalam perjalanan dinamakan dengan istilah qosor, yaitu meringkas sholat yang empat rakaat menjadi dua rakaat, adapun sholat yang tidak empat rakaat tidak boleh diqosor. Qosor adalah keringanan yang diberikan oleh Allah bagi yang melakukan perjalanan, keringanan ini disebut dengan rukhsoh (ulama Hanafiah menyebutnya dengan azimah). Rukhsoh adalah merubah perbuatan yang sulit menjadi mudah karena ada alasan syar’iy atau darurat yang menimpa pada pelakunya. Alasan syar’iy dan darurat tadi menuntut hambanya untuk tidak melakukan kewajiban yang seharusnya dilakukan secara normal, hal itu untuk kemashlahatannya atau untuk menjauhkannya dari madharat yang mungkin menimpanya.

Jarak tempuh perjalanan yang membolehkan qosor sholat


Para ulama fiqh berbeda pendapat tentang batas minimal jarak perjalanan yang boleh untuk melakukan qosor sholat:


Abu Hanifah berpendapat bahwa batas minimal dibolehkannya melakukan sholat qosor adalah 3 hari perjalanan siang-malan yang ditempuh secara normal dan dengan menggunakan unta. Apabila jarak tersebut bisa ditempuh hanya dalam satu hari saja maka ia boleh melakukan sholat qosor dan sebaliknya apabila 1/3 dari jarak perjalanan itu ditempuh dengan lama 3 hari maka ia tidak boleh melakukan qosor karena hanya menempuh 1/3 jarak perjalanan yang dibolehkan untuk mengqosor sholat. Adapun menurut imam Syafii bahwa batas minimal perjalanan yang diperbolehkan sholat qosor adalah 48 mil (80 km lebih sedikit) atau perjalanan kaki yang memakan waktu selama dua hari dua malam dengan perjalanan yang normal.

Di samping dua pendapat di atas, ada juga pendapat ulama-ulama lain yang menerangkan batas minimal jarak yang lebih pendek dibanding pendapat diatas bahkan ada juga yang mengatakan bahwa sekedar melakukan perjalanan biasa saja itu sudah cukup untuk dibolehkannya melakukan sholat qosor. Pendapat tersebut walaupun ada dasarnya (salah satunya dari Ibnu Abas) tapi bobot dan validitas haditsnya banyak dipertanyakan di samping bertentangan dengan hikmah dilegalkannya rukhsoh. Menurut hemat saya: bahwa setiap perjalanan yang meletihkan, menempuh jarak yang jauh atau memakan waktu yang lama bila ditempuh dengan jalan kaki atau kendaraan hewan adalah perjalanan yang membolehkan kita untuk melakukan sholat qosor. Adapun bila jaraknya dekat dan tidak meletihkan maka dalam kondisi tersebut tidak boleh melakukan sholat qosor. Berbeda halnya apabila jaraknya jauh tapi karena kemajuan alat tranportasi maka dalam kondisi ini, ia boleh memilih antara mengqosor atau menyempurnakannya.

Hukum melakukan qosor sholat


Imam Abu Hanifah menyebut istilah rukhsoh (keringanan) dengan istilah azimah (keharusan), artinya pemberian yang harus diambil. Maka menurut pendapat beliau bahwa sholat qosor bagi orang yang menempuh perjalanan selama 3 hari 3 malam hukumnya adalah wajib. Hal itu berdasarkan hadits rasulallah saw: {bahwa qosor sholat itu adalah sodaqoh dari Allah maka terimalah sodaqohNya} HR Muslim. Adapun menurut Imam Syafii bahwa hukumnya adalah bebas memilih, baik dengan mengqosor ataupun dengan menyempurnakan empat rakaat, hal itu berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Siti Aisyah ra, Utsman bin Affan ra yang mana keduanya terkadang melakukan qosor dan terkadang menyempurnakannya tanpa ada sanggahan dari rasulallah saw, dll.

Menyikapi kondisi perjalanan dan alat transportasi pada masa kini


Allah swt telah membolehkan kita untuk meringkas sholat dalam perjalanan dan Dia tidak menentukan dalam jarak berapakah meringkas sholat itu dibolehkan. Tapi inti dari adanya rukhsoh itu adalah dibolehkannya melakukan qosor sholat pada setiap perjalanan. Untuk itu para ulama fiqh berbeda pendapat tentang maksud perjalanan yang bisa mengqosor sholat sebagaimana yang disebutkan dalam al Quran tadi dan mereka juga berbeda pendapat tentang jumlah jarak yang boleh melakukan sholat qoshor. Adapun titik temu dari pendapat para ulama tadi terletak pada setiap jarak perjalanan yang biasanya ditempuh musafir secara normal dengan jalan kaki/unta yang mana perjalanan tersebut meletihkan musafir. Itulah jarak yang dibolehkan untuk melakukan sholat qosor.

Berangkat dari penjelasan tadi jelaslah bahwa setiap orang yang menempuh perjalanan dengan jarak yang biasanya meletihkan musafir bila ditempuh dengan jalan kaki/unta adalah jarak yang membolehkan pelakunya untuk melakukan qosor sholat. Untuk kondisi sekarang, baik perjalanan itu ditempuh dengan pesawat, kereta api, mobil, kuda atau jalan kaki atau perjalanan itu menghabiskan waktu dalam hitungan menit, jam, hari atau mingguan selama menempuh jarak tadi maka ia boleh mengqosor sholat. Tapi apabila perjalanannya sudah berhenti dan dia sudah tidak melakukan lagi perjalanan maka dia tidak berhak lagi untuk menggunakan rukhsoh itu. Jadi standarnya adalah jarak lama yang sudah ditentukan ulama terdahulu (dengan memilih salah satu pendapatnya) walaupun ia menempuhnya dalam hitungan menit, dan bukan ditentukan dari kecepatan alat transportasinya.

Hilangnya hak rukhsoh dalam mengqosor sholat


Hak untuk melakukan qosor sholat menjadi hilang apabila ada tiga hal berikut ini:
- Apabila ia kembali ke tempat asal menetapnya
- Apabila ia berniat untuk menetap di tempat yang menjadi tujuannya tersebut, baik sementara ataupun untuk selamanya, yaitu berniat meneteap lebih dari empat hari.
- Apabila ditengah perjalanannya mendapatkan pekerjaan atau ada bisnis atau lainnya yang tidak bisa diselesaikan kurang dari empat hari, maka dalam kondisi seperti ini ada tiga pendapat ulama:

Pendapat pertama: dia berhak mengqosor hanya dalam waktu empat hari saja, setelah itu ia kembali seperti orang menetap.

Pendapat kedua: ia boleh mengqosor selamanya (pendapat yang paling lemah dan jarang dipraktekan oleh para ulama karena tidak sesuai dengan hikmah dilegalkannya qosor solat)

Pendapat ketiga: ia boleh mengqosornya hanya dalam waktu 20 hari saja.

Kesimpulan

Rukhsoh adalah keringanan yang diberikan oleh Allah swt. Kita berhak memilih salah satunya yang sekira-kiranya membuat hati tenang dan puas serta mudah dalam menjalankan ibadah kita. Apabila dengan mentaqshir sholat itu, hati kita merasa lebih puas dan tenang serta lebih mudah dalam pelaksanaannya, maka itulah yang harus kita pilih dan sebaliknya apabila dengan menyempurnakannya empat rokaat membuat hati kita lebih tenang, puas dan juga mudah dalam menjalankannya maka itulah pilihan yang kita jalankan.

Adapun orang yang lagi transit maka hukumnya adalah seperti orang yang sedang melakukan perjalanan. Dan lamanya transitnya itu ditentukan oleh tradisi perjalanan, baik itu dalam hitungan jam ataupun dalam hitungan harian. Sebagai catatan bahwa tidak disebut transit apabila orang menghabiskan waktunya selama satu bulan apalagi sampai satu tahun dalam suatu daerah/ tempat karena kondisi seperti itu menurut ulama sudah disebut muqim (menetap), baik untuk sementara ataupun untuk selamanya dimana ia sudah tidak berhak lagi untuk mentaqsir sholat. Begitu pula halnya status student yang sudah mendapat student visa, ia tidak dianggap lagi tourist tapi sudah dianggap temporary resident.

Wallahu ‘alam bishawab

Reference

- Ibnu ‘Asyur, Muhammad, Maqoshid Assyariah Al islamiyah, Jordan, Dar An Nafais, 2001
- Ismail Kaukasal, DR, Tagorrul Ahkam fi Assyariah Al Islamiyah, Beirut, Muassasah Arrisalah, 2000.
- Azzamahsyary, Abi al Qosim, Al kasyaf, Cairo, Maktabah Misr, tanpa tahun.
- Adnan M. Jum’ah, DR, Raf’ul haraj, Beirut, Muassasah Arrisalah, 1993.
- Al Hushony, Imam, Kifayatul Akhyar, Cairo, Maktabah Attaufiqiyah, tanpa tahun.
- An Naway, Imam, Raudhatut Talibhin, Beirut, Dar al Kutub al Ilmiyah, 2000.

Monday, September 26, 2005

Penambahan nama suami pada nama istri

pertanyaannya:

Ustadz saya ingin menanyakan apakah benar tidak dibolehkan dalam Islam, kita mencantumkan nama suami dibelakang nama kita, apakah ada dalil/dasar hukumnya
di dalam Al Qur'an dan Hadist?Setahu saya, ini tidak diperbolehkan dalam Islam, karena akan mengacaukan jalur nasab. Seperti kita tahu, ada adab memberi nama
dalam Islam, dan seharusnya kita mencantumkan nama bapak kita di belakang nama kita.
Jazakallahu khair pak ustadz.

Wassalam,

D & A

Jawaban:

Saya belum pernah menemukan hukum khusus tentang penambahan nama suami pada nama istri, maka ketika ikhwan-ikhwan sibuk membicarakannya dan menjadikan sebagai bagian dari tasyabuh kepada orang-orang kafir maka saya agak sedikit kaget (mungkin karena saya belum menemukan dalilnya).
Rasulallah saw memang melarang kita untuk menyerupai syetan dan orang kafir karena ditakutkan kita menjadi pengagumnya. Larangan menyerupai itu sendiri adalah sangat relatif dan boleh jadi ditekankan pada hal-hal yang prinsipil. Dalam kata lain penyerupaan itu dilarang dalam hal yang berhubungan dengan sifat dan karakter adapun dalam hal tekhnis (strategy dan manajemen) dan urusan dunia maka hal itu tidak termasuk dalam larangannya. Sebagai contoh bahwa umar bin khathab pernah meniru gaya orang Persia dan Romawi dalam masalah bentuk uang dan masalah diwan (departemen) untuk urusan kenegaraan.
Begitu juga kondisi kita, terutama dalam hal teknologi, boleh jadi hampir mayoritas elemen teknologi meniru orang-orang kafir. Maka tak diragukan lagi, bahwa kata-kata or

ang salaf yang mengatakan: “ Carilah ilmu walau ke negeri China” cocok untuk menjustifikasi hal-hal seperti itu.
Di Mesir, orang-orang biasa memanggil Madam Muhammad atau Madam Mahmud, yaitu memanggil istrinya dengan menggunakan nama suaminya tapi dengan menambahkan awalan madam.
Saya tidak pernah melihat mereka menambahkan nama suaminya pada urusan KTP atau dokumen-dokumen penting lainnya seperti SIM, surat tanah, surat rumah dll. Mereka masih tetap menggunakan nama bapaknya setelah nama aslinya atau nama marganya.
Artinya bahwa sekedar panggilan saja penambahan nama suami pada nama istrinya adalah lumrah dan biasa di negara arab sendiri.
Adapun pemberian nama ayah/marga pada anaknya adalah semata-mata untuk mengatur sistem keturunan dan kesukuan, dan itu banyak manfaatnya terutama ketika terjadi kriminalitas bahkan juga untuk menproteksi dari terjerumusnya ke jalan yang tidak benar karena nama keluarga bisa menjadi pertimbangan dalam melakukan hal-hal yang negatif. Tapi semua itu dibolehkan dengan syarat bukan untuk ta’ashub jahiliy.
Dalam literatur sejarah Islam, seorang istri lebih banyak dipanggil dengan sebutan-sebutan kesayangan atau penghargaan atau sebutan nama anaknya. Sebagai contoh Siti Aisyah dipanggil Rasulullah saw dengan sebutan ya humairah, ya ‘Aisy bahkan setelah meninggalnya Rasulullah, beliau dipanggil umat Islam dengan panggilan Ummul Mukminin, begitu juga yang lainnya. Jadi dalam literatur sejarah arab, penambahan nama suami pada istrinya jarang ditemukan.
Adapun hukumnya, saya pribadi tidak melihat sebagai suatu penyerupaan atas orang-orang kafir karena hal itu tidak berhubungan dengan sifat dan karakter, bahkan mungkin itu sebagai tanda bahwa wanita itu miliknya si fulan (nama tambahannya itu).
Tapi alangkah baiknya, apabila kita ingin punya jati diri dan karakteristik, agar kita tidak menjadi pengagum orang-orang kafir dan pengikutnya lebih baik kita mengikuti gaya rasulullah dengan memberi panggilan khusus buat sang istri dengan sebutan yang indah seperti latifah, umaimah dll atau memanggil dengan nama panggilan anaknya seperti ummu ibrahim, ummu khalid dll.
Adapun masalah mengikuti gaya arab, selama itu adalah masalah budaya semata maka tidak ada kewajiban untuk mengikutinya tapi apabila budaya itu sudah diadopsi oleh hukum Islam maka itu adalah kewajiban yang harus kita taati seperti halnya dalam maslah bahasa arab fusha (bahasa quran) adapun untuk bahasa ‘amiyah (slanknya arab) maka kita tidak harus mengikutinya. Dan msh banyak lagi budaya-budaya arab yang diadopsi Islam selain bahasa.
Artinya bahwa panggilan akhwat, ikhwan dll adalah mempunyai makna yang mendalam dan bukan panggilan asal panggil.
Wallahua’lam bishawab.

Seputar Zakat & Zakat Profesi

Assalamualaikum wr wb

Ustadz, sehubungan semakin dekatnya bulan ramadhan dan anjuran membayar zakat pada bln tsb, saya mau nanya ttg zakat:

1. Apakah ada istilah zakat profesi di dalam islam? bagaimana hukumnya? (zakat atas penghasilan seorang dokter, lawyer, dosen, dll. Apakah yg kena zakat cuman
petani, pedagang dan penghasil tambang aja?)

2. Apakah perhitungan zakat dilakukan setelah dikurangi nishab, atau tdk?

3. Apakah zakat hanya dikenakan pada kelebihan harta, yaitu pendapatan dikurangi biaya2 atau langsung dikenakan atas pendapatan (misalnya gaji dan pendapatan lain2 berapa x rate zakat, atau pendapatan total - biaya2 kebutuhan pokok, baru x rate zakat?)

4. yg saya tahu zakat hanya dikenakan pada mata uang, emas perak, hasil tani, tambang dan perdagangan saja. Bgm hukum zakat atas saham, tanah, property (rumah tdk untuk dihuni tp untuk investasi)?

5. Bolehkah zakat dibagi sec individu (langsung ke tetangga, misalnya)? Bolehkan di bagi ke saudara yg tdk mampu? apa batasan tdk mampu?

Afwan, pertanyaannya banyak.
Terimakasih banyak

Wassalam
Nisful Laila Usman


Jawaban:

•Suatu harta dikenakan wajib zakat apabila memenuhi syarat-syarat berikut:

1.Apabila harta itu menjadi miliknya secara penuh, bukan sebagai pinjaman, titipan ataupun gadai

2.Apabila harta itu diinvestasikan (dikembangkan) atau memungkinkan untuk diinvestasikan seperti uang, emas, perak atau surat-surat berharga.

3.Apabila harta itu mencapai nishab zakat (batas minimal kena zakat). Nishab emas, perak, uang, harta bisnis atau yang menyerupainya adalah setara 85 gram (dari emas murni dan 24 karat). Nishab zakat tanaman dan buah-buahan adalah 5 Ausaq (setara 652 kg). Adapun nisab ternak adalah tergantung jenis hewannya (unta dan sejenisnya: 5 ekor, Sapi dan sejenisnya: 30 ekor, domba dan sejenisnya: 40 ekor).

4.Apabila harta tersebut merupakan kelebihan (net income) dari kebutuhan pemilik harta dan orang-orang yang ditanggungnya (seperti anak, istri dan orang tua
yang bergantung pada pemilik harta tersebut) selama setahun. Yang dimaksud kebutuhan di sini adalah kebutuhan primer yang harus dipenuhi oleh manusia untuk mempertahankan hidupnya secara layak tanpa berlebihan dan pemborosan.

5.Apabila harta tersebut terbebas dari hutang. Apabila harta tersebut mempunyai beban hutang maka kewajiban zakatnya dikenakan setelah dipotong beban hutang.

6.Apabila harta tersebut dimilikinya selama satu tahun Hijriyah (Haul). Apabila kurang dari itu atau pada saat mencapai satu tahun hartanya berkurang dan tidak
mencapai nishab maka ia tidak dikenakan kewajiban zakat. Dan dikecualikan dari kewajiban syarat Haul adalah harta pertanian, buah-buahan dan rikaz (harta
karun), pada harta tersebut diwajiban zakat pada saat panen atau menemukannya.
7.Apabila harta itu diperoleh dengan cara halal dan baik karena Allah tidak menerima harta yang diperoleh dengan cara haram. Adapun harta yang diperoleh dengan haram maka itu harus dikembalikan kepada pemiliknya dan apabila tidak tahu maka sebaiknya diinfaqkan pada fasilitas milik ummah/ umum tanpa memberi tahu statusnya. Dan itu bukan zakat tapi mengembalikan hak orang lain kepada pemilik haknya.

Dari syarat-syarat tadi jelaslah harta mana saja yang harus dikeluarkan zakatnya dan harta mana yang tidak dikenakan kewajiban zakat.

•Adapun dasar hukum zakat profesi adalah sebagai berikut:
Para ulama berbeda pendapat tentang dasar hukum zakat profesi, ada yang mengatakan bahwa dasar hukumnya adalah mal mustafad (pendapatan dari hasil kerja), dan
ada pula yang mengatakan bahwa dasar hukumnya adalah qiyas (dianalogykan) kepada zakat pertanian dan buah-buahan.

Tapi pendapat yang pertama adalah lebih tepat karena lebih sesuai dengan realita dengan dalil-dalil sebagai berikut:
1.Firman Allah:
“ Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah sebagian yang baik-baik dari hasil usahamu dan hasil-hasil yang kami keluarkan dari bumi” QS. Albaqoroh: 267.

2.Hikmah zakat dimana zakat itu diwajibkan pada orang kaya sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits: “ zakat itu diambil dari orang kayanya dan dibagikan kepada orang miskinnya” HR. Bukhory dan Muslim.

•Apakah dalam mal mustafad diperlukan syarat haul?

Para ulama juga berbeda pendapat tentang hal ini tapi pendapat yang paling kuat adalah tidak perlunya haul tapi cukup syarat nishab. Artinya bahwa harta itu
dikenakan zakat saat kita menerimanya dengan syarat bila mencapai nishab.

•Ukuran nishabnya: menurut pendapat yang paling kuat adalah sama dengan zakatnya uang yaitu 85g (dari emas murni dan jenis 24 karat).

•Rate (jumlah) zakat yang harus dikeluarkan dari zakat profesi adalah 2,5 % dari harta yang sudah mencapai nishab dalam pendapat yang paling masyhur.

•Cara mengeluarkannya:

1.Bulanan: bagi mereka yang mempunyai gaji besar dan mencapai nishab maka dibolehkan untuk mengeluarkannya setiap bulan setelah dipotong kebutuhan primer.
2.Tahunan: bagi mereka yang mempunyai gaji kecil (tidak mencapai nishab dengan hitungan bulanan) dianjurkan untuk menjumlahkannya dalam waktu setahun kemudian dikurangi kebutuhan primernya selama setahun, maka apabila harta tersebut masih tersisa dan mencapai nishab maka dia wajib mengeluarkan zakat 2.5%.


•Adapun yang dimaksud dengan “tidak mampu” adalah orang yang tidak mencapai pada derajat standar hidup layak. Dan standar hidup layak itu berbeda-beda dari
satu negara ke negara lain. Di Indonesia mungkin disebut orang yang tidak sampai pada standar hidup layak adalah orang yang penghasilannya kurang dari Rp10,000,-/ hari. Berbeda lagi dengan di negara kuwait, bahwa orang yang tidak sampai pada derajat standar hidup layak adalah orang yang hanya memiliki satu mobil dan dua AC. Di Australia mungkin beda lagi. Jadi standar tidak mampu lebih bersifat pada status
ekonomi dan sosialnya, dan itu bersifat kondisional dan berbeda-beda dari satu negara ke negara lain. Dalam konteks zakat, kelompok yang berhak untuk mendapatkan zakat adalah ada delapan kelompok. Dua kelompok pertama mewakili orang yang tidak mampu
secara financial, yaitu fakir-miskin, mereka adalah orang yang mempunyai harta tapi tidak mencukupi kebutuhan makan hariannya. Adapun kelompok yang lainnya adalah kelompok yang membutuhkan bantuan karena faktor lainnya seperti faktor hutang,
perantauan, perjuangan di jalan Allah, meraih kebebasan atau faktor revolusi ideologi. Adapun kelompok amil mendapatkan zakat adalah karena faktor etos kerja.
Perlu dicatat, bahwa zakat tidak boleh diberikan kepada orang kaya (selain amil) dan orang yang kuat dan sehat sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits:
“Tidaklah sodaqoh (zakat) itu dihalalkan bagi orang kaya dan tidak pula bagi orang sehat dan kuat” HR. Lima Imam hadits dan Imam Turmudzi.

•Bolehkan membayarkan zakat pada kerabat?

Para ulama sepakat bahwa zakat tidak boleh diberikan kepada orang yang menjadi tanggungan nafaqahnya seperti istri, anak dan orang tua yang menjadi tanggungan anaknya dan sebaliknya bahwa seorang istri boleh memberikan zakatnya pada suaminya yang miskin karena suami itu bukan tanggungjawab istrinya. Tapi para ulama berbeda pendapat tentang memberi zakat pada keluarga atau kerabat. Pendapat yang paling kuat
adalah apabila keluarga/kerabat itu diluar tanggung jawabnya maka mereka boleh mendapatkan zakat bahkan dianjurkan sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits:
“Memberi zakat pada orang misikin itu adalah sodaqoh, adapun memberi zakat kepada kerabat miskin adalah sodaqoh dan perekat silarurahmi” HR. Ahmad dll.

Wallahu a’lam bishwab

Reference:
-Yusuf Qordowy, DR. Fiqh Zakat, Muassasah arrisalah,1994.
-Husain Sakhotah, DR. Attathbiq al mu’asir li fiqh zakat, Dar Manar al haditsah, 2003.

Tuesday, August 23, 2005

Apakah bunga bank termasuk riba? dll

Pertanyaan dari mbak N,
beserta Jawabannya dari Ust. Cecep:


Apakah bunga bank termasuk riba?



Sebuah realita menunjukan bahwa semakin tinggi interest rate suatu mata uang semakin tinggi pula tingkat inflasinya, dan suatu negara yang mempunyai inflasi yang tinggi berarti ekonominya dalam keadaan collaps. Dan begitu sebaliknya semakin rendah interest ratenya semakin rendah pula nilai inflasinya dan semakin bagus pula neraca ekonominya.



Artinya bahwa sistem interest tidak pernah menghasilkan sebuah solusi karena tidak ada sistem interest yang berada pada posisi nol kecuali yang benar-benar melepaskan sistem interest tersebut secara total dan menggantinya dengan sistem sharing.



Para ulama sepakat bahwa riba adalah haram hukumnya, hal itu berdasarkan al Quran, hadits, ijma (aklamasi ulama), tinjauan ekonomi, tinjauan sosial dan tinjauan psikologis.



Riba ada dua jenis (secara global): riba fadhl (tambahan) dan riba nasaai (disebut pula riba jahiliy). Riba fadhl adalah melakukan barter sebuah komoditi yang sama dengan melebihkan salah satu komoditinya, hal ini hanya berlaku pada enam jenis komoditi saja yaitu emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, jelalai dengan jelalai, kurma dengan kurma dan garam dengan garam (sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ubadah bin Shamit). Adapun riba Nasaai adalah pinjaman uang dengan tambahan uang yang ditentukan dari nilai nominal pinjaman atau jumlah tertentu untuk waktu tertentu, dan apabila waktunya tiba sedangkan ia belum bisa membayarnya maka si kreditor harus membayar kembali jumlah tambahan yang ditentukan di muka tadi untuk waktu tertentu lagi, dan begitulah seterusnya.



Para ulama secara ijma (aklamasi) sepakat bahwa kedua jenis tersebut haram hukumnya, barang siapa mengingkarinya maka ia disebut kafir (menolak hukum Allah) dan pelakunya berhak untuk diperangi sebagaimana musuh Allah lainnya.



Yang jadi pertanyaan, apakah bunga bank termasuk riba?

Mayoritas ulama mengatakan bahwa bunga bank adalah riba dan hukumnya haram. Dan sebagian yang lain mengatakan bahwa bunga bank adalah bukan riba, maka hukumnyapun tidak haram.



Mayoritas ulama berargumentasi bahwa bunga bank tidak berbeda dengan riba hanya dalam bentuk dan tekhnis operasionalnya saja (dalil-dalilnya sama dengan apa yang diungkapkan oleh MUI).



Adapun sebagian ulama yang mengatakan bahwa bunga bank bukan merupakan riba berargumentasi dengan dalil-dalil secara globalnya sebagai berikut:

1. bahwa bunga bank sifatnya fluktuatif dan ditentukan berdasarkan keuntungan yang diperoleh secara standar dari neraca ekonomi sebuah negara. Jadi bunga bank adalah sama dengan keuntungan dari sebuah perusahaan yang membagikan keuntungan yang diperolehnya.

Pendapat tersebut jelas sekali tidak sesuai dengan realitanya, karena bunga bank ditentukan bukan berdasarkan keuntungan standar yang dihasilkan oleh ekonomi negara tapi ditentukan oleh banyak faktor, salah satunya adalah tingkat inflasi, cadangan devisa negara, strategi ekonomi, pertumbuhan ekonomi suatu negara dan lainnya.

2. bahwa bank adalah sebuah lembaga investasi yang mana mereka menginvestasikan dana nasabahnya dalam bentuk-bentuk investasi yang menguntungkan. Jadi fungsi bank dalam hal ini adalah sebagai mudharib (pengelola dana untuk di investasikan) dan bukan sebagai broker atau mediator yang meminjamkan lagi dana nasabahnya kepada pihak ketiga dengan sistem bunga. Bila fungsi bank sebagai mudharib/ patner of share maka hal itu dibolehkan dalam fiqh Islam.

Melihat realita, fungsi bank lebih dominan kepada mediator untuk meminjam kembali uang nasabahnya kepada pihak ketiga dengan rate bunganya lebih tinggi dibandingkan yang diberikan kepada nasabahnya.



Adapun ulama lain mengatakan bahwa bunga bank adalah haram tapi karena madharat maka hal itu dibolehkan. Pendapat ini untuk 20 tahun yang lalu mungkin bisa diterima tapi untuk kondisi sekarang, dimana bank-bank syariah sudah menjamur dimana-mana bahkan bank-konvensionalpun sudah mulai membuka cabang syariahnya (dual system).



Dari uraian singkat di atas. Jelaslah bahwa bunga bank dalam berbagai bentuknya baik rekening biasa, rekening berjangka, rekening deposito dan instrument-instrument lainnya yang menggunakan bunga adalah haram.



Dalam hal ini, saya sependapat dengan fatwa MUI.



Apa hukum investasi dalam saham atau reksadana dalam pandangan fiqh islam?



Saham (share/ stock) adalah sertifikat bukti kepemilikan modal pada suatu perusahaan atau lembaga keuangan.

Saham mempunyai bentuk dan jenis yang beraneka ragam. Tergantung dari sudut mana pembagiannya.

Secara umum bahwa investasi dalam bentuk saham adalah boleh dengan alasan sebagai berikut:

- saham adalah mengikutsertakan modal tanpa ikut andil dalam pengelolaannya. Maka bentuk tersebut sama dengan mudharabah yaitu menyerahkan modal pada mudharib (pengelola) untuk diinvestasikan pada proyek yang menguntungkan dengan sistem pembagian keuntungan yang ditentukan melalui presentasi dari keuntungan.

- Investasi dalam bentuk saham it dibolehkan dengan syarat-syarat sebagai berikut:

a. Perusahaan pemilik saham tidak melakukan aktivitas yang diharamkan oleh syariat seperti melakukan transaksi komoditi yang diharamkan oleh syariat seperti komoditi arak, komoditi daging babi dan anjing dan lainnya.

b. Perusahaan tersebut tidak menggunakan sistem interest rate, apabila ia terlibat dalam bisnis yang menggunakan interest rate system, maka saham perusahaaan tersebut menjadi haram.

Walaupun secara global investasi dalam saham dibolehkan dengan syarat-syarat tadi tapi ada beberapa bentuk saham yang tidak dibolehkan seperti saham istimewa dan saham pembukaan yang mana nilai jualnya lebih murah dari nilai nominal yang tertulis di dalam sertifikat sahamnya.



Saham istimewa (Preference shares) diharamkan apabila memenuhi hal-hal berikut:

- Apabila pemiliknya mempunyai hak istimewa dalam mendapatkan keuntungan dengan jumlah tertentu dan sebelum pembagian keuntungan pada pemilik saham lainnya. Hal tersebut diharamkan karena menghilangkan keadilan yang seharusnya dinikmati oleh semua pemilik saham.

- Apabila pemiliknya mempunya hak istimewa ketika pembubaran perusahaan, sehingga dia mendapatkan prioritas dalam mendapatkan pengembalian sebelum pemilik lainnya.

- Apabila pemilik hak pilih yang lebih dibanding pemilik lainnya dalam musyawarah umum pemegang saham

- Apabila pemiliknya mendapatkan keuntungan tahunan tetap (fixed interest rate), baik perusahaan itu rugi ataupun untung karena hal itu tidak jauh beda dengan sistem bunga.



Adapun saham pembukaan yang menjual saham dengan harga dibawah harga nominal yang tertulis dalam sertifikat saham adalah haram karena cara tersebut merugikan pemilik saham lainnya yang harus membayar saham dengan nilai nominal yang sama seperti yang tertulis dalam sertifikat saham



Reksa dana adalah wadah yang dipergunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal untuk selanjutnya diinvestasikan kembali dalam portopolio efek oleh manajer investasi.

Investasi dalam reksa dana tidak jauh berbeda dengan investasi dalam bentuk saham, hanya yang membedakannya adalah bahwa investasi dalam saham adalah mengikutsertakan modal pada perusahaan secara langsung dengan hak dan kewajibannya sebagai pemilik saham. Adapun investasi dalam bentuk reksa dana adalah menyerahkan modal pada sebuah lembaga atau perusahaan reksa dana yang kemudian perusahaan tersebut akan menginvestasikan dana pemodal tersebut pada lapangan yang sekiranya bisa menguntungkan.

Investasi dalam reksa dana menjadi halal apabila perusahaan reksa dana tersebut menginvestasikan dana tadi dalam investasi yang halal dan tidak berinteraksi dalam sistem bunga.



Obligasi (bond) adalah surat utang yang dikeluarkan oleh perusahaan atau pemerintah dengan bunga tertentu yang ditetapkan untuk waktu tertentu.

Investasi dalam obligas adalah haram hukumnya karena menggunakan sistem bunga.



Apa hukum transaksi financial derivative dalam pandangan fiqh islam?

Derivatives adalah alat finansial yang tidak mempunyai nilai dasar, tapi nilainya berasal dari yang lain. Mereka membendung resiko kepemilikan sesuatu yang menjadi subyek dari fluktuasi harga yang tak terduga sebagai contoh mata uang asing, gandum, saham dan bond pemerintah.



Ada dua jenis: futures, yaitu kontrak untuk penyerahan transaksi di masa datang dengan harga yang telah ditetapkan sebelumnya. Dan options, yaitu memberikan suatu pihak kesempatan untuk membeli dari atau menjual pada pihak lain dengan harga yang telah ditetapkan sebelumnya.



Apa hukum forward contract (future) dalam pandangan fiqh islam?

Forward market yaitu pasar dengan kontrak (atau yang dikenal dengan future) yang menyebut penyerahan barang atau surat berharga pada tanggal tertentu dan pada harga yang tetap.



Sebenarnya, forward market dengan definisi seperti di atas tidak ada masalah dalam fiqh islam selama tidak menggunakan unsur bunga ataupun unsur penipuan karena hal itu termasuk bagian dari perjanjian. Tapi yang menjadi masalah adalah ketika perjanjian untuk penyerahan dan dengan harga yang ditetapkan itu dijadikan lahan spekulasi dan lahan jual-beli. Maka dalam kondisi ini, transaksi tersebut menjadi tidak boleh lagi karena mengandung unsur-unsur yang diharamkan oleh syariat, yaitu:

- Menjual barang yang tidak ada dan belum dimiliki yaitu perjanjian itu sendiri karena dalam kontrak tersebut belum ada barang yang bisa diperjual belikan dan belum menjadi miliknya karena baru sebatas perjanjian. Maka hukumnya dalam hal ini adalah tidak boleh.

- Menjual barang yang tidak dengan spekulasi, artinya karena fluktualisasi harga dan inflasi ekonomi dunia yang tidak jelas, maka forward market dijadikan sebagai ajang spekulasi untuk meraup keuntuntan, padahal barang tersebut belum jelas.

- Biasanya untuk mendapatkan forward contrak itu ada fee (interest) yang dikenakan pada pembelinya, adapun ratenya ditentukan tergantung fluktualisasi ekonomi dunia atau negaranya atau barangnya atau mata uangnya.

Berdasarkan pertimbangan tadi, jelaslah bahwa forward transaksi dalam bentuk tadi adalah mengandung tiga unsur yang diharamkan oleh syariat.



Adapun forward rate, yaitu menentukan kurs mata uang asing dengan harga tetap untuk dibayarkan di masa yang akan datang adalah tidak boleh, karena hal itu mengandung riba fadhl sebagaimana disebutkan dalam hadits enam jenis komodidti yang tidak boleh melakukan barter dalam jenis tersebut kecual dengan matsalan bi mitslin dan yaddan bi yaddin. (jumlah yang sama dan dalam waktu yang berbarengan). Adapun alasan kedua transaksi tersebut menjadi haram karena dalam penentuan harga tetap itu menggunakan sistem bunga juga yang disebut dengan fee for forward contrak.



Tidak jauh beda dengan forward transaction dalam bursa efek. Transaksi tersebut mengandung unsur spekulasi dan syarat harus membayar kompensasi bila transaksi forward itu dibatalkan atau harus bayar bunga tertentu bila transaksi itu diundurkan lagi. Bahkan banyak sekali pialang yang melakukan transaksi forward transaksi dengan pembeli padahal dia sendiri belum memiliki saham atau obligasi yang akan dijualnya.



Jadi jelas, bahwa forward transaction dalam busrsa efekpun menyalahi aturan syariat, seharusnya kita meninggalkannya dan menggantinya dengan sistem syariat yang sekarang ini sudah mulai semarak.



Adapun tentang option, yaitu perjanjian yang memberikan hak opsi (pilihan) kepada pembeli opsi (dengan fee tertentu) untuk merealisasikan kontrak jual beli valuta asing atau saham atau obligasi yang tidak diikuti dengan pergerakan dana dan dilakukan pada atau sebelum waktu yang ditentukan dalam kontrak, dengan kurs atau harga yang terjadi pada saat reaslisasi tersebut. Biasanya option mempunyai dua jenis, yaitu put option (hak untuk membeli) dan call option (hak untuk menjual).



Transaksi option mengandung tiga unsur yang diharamkan syariat. Pertama adalah adanya bunga yang ditentukan untuk mendapatkan option tersebut, kedua jual beli yang tidak dimiliki dan tidak ada dan ketiga adalah jual beli gharar (spekulasi). Dengan ketiga unsur tadi, jelaslah bahwa transaksi dengan menggunakan sistem option adalah bertentang dengan hukum islam dan tidak dibolehkan melakukannya.



Untuk itu, syariat islam telah memberikan beberapa alternatif untuk menggantikannya, yaitu transaksi dengan menggunakan bentuk salam, bentuk al bae li ajal (jual beli yang pembayarannya ditangguhkan) dan murabahah. Semuanya dengan syarat dan kondisi yang sudah diatur oleh para ulama.





Apa hukum transaksi swaps dalam pandangan fiqh islam?

Swap adalah mempertukarkan atau barter suatu sekuritas dengan sekuritas lain. Barter bisa dilakukan untuk mengubah jatuh tempo obligasi portopolio atau mutu emisi suatu portopolio saham atau obligasi, atau karena tujuan suatu investasi sudah berubah.



Transaksi swap tidak pernah lepas dari sistem bunga, adapun besar dan kecilnya tergantung pada kualitas portopolionya, baik dalam bentuk saham ataupun obligasi.

Berdasarkan hal tadi, jelaslah bahwa swap adalah transaksi yang bergantung pada suku bunga. Maka hukumnnyapun adalah haram.

Wallahu a’lam bishawab.



Wassalam,

-Cecep-

haramkah kepiting, swike & ikan hiu dimakan?

Pertanyaan:

Ustadz, haramkah kepiting, swike & ikan hiu?

Wassalam,
-A-

Jawaban:

Assalamu'alaikum wr wb

Semoga Allah swt memberi kita petunjuk ke jalan yang benar yaitu jalan yang tidak sesat dan tidak juga dimurkai olehNya, amin.

Alquran tidak mengharamkan suatu makanan kecuali dalam jumlah yang sangat terbatas, yaitu bangkai, darah, humur, daging babi dan hewan yang disembelih bukan karena Allah.


Dalam ilmu ushul fiqh (dasar-dasar fiqh) diterangkan tentang nara sumber hukum yang boleh dijadikan standar oleh umat Islam. Para ulama telah berbeda tentang jumlah nara sumber tersebut tapi yang disepakati adalah empat, yaitu: Al Qur’an, Al Hadits, Ijma (Aklamasi ulama dan qiyas (analoqy). Dua nara sumber yang terakhir boleh diakui apabila bersumber dari Al Quran dan Al Hadits.

Pertanyaan yang muncul, kok kenapa kalau memang tetap kembali ke Al Qur’an dan Al Hadits diperlukan lagi nara sumber lain selain Al Qur’an dan Al Hadits?

Mayoritas hukum yang terkandung dalam Al Qur’an dan Al Hadits adalah mujmal (global) yang membutuhkan penjelasan dan penafsiran. Nah methode untuk merujuk ke pemahaman yang benar itulah yang disebut nara sumber lainnya selain Al Qur’an dan Al Hadits.
Sebagai contoh bahwa nara sumber Ijma (aklamasi ulama) dasarnya adalah sebuah hadist yang berbunyi: “bahwa umatku tidak mungkin sepakat untuk berbuat salah” dan “ apa yang dipandang (seluruh) umat Islam baik adalah baik pula menurut Allah” dan hadist lainnya.
Dari pendahuluan tersebut mungkin bisa dipahami tentang standar hukum yang boleh kita jadikan pegangan, dan hal itu bukan berarti berpaling dari Al Qur’an dan Al Hadits atau bukan berarti pula sebagai ketidak komprehensifan Al Qur’an dan Al Hadits, hal itu semata-mata untuk mendidik umatnya agar mau menggunakan akalnya (sebagaimana banyak sekali disebutkan dalam Al Qur’an).

Kembali ke masalah pokok kita, yaitu masalah kepiting dan hewan lain yang biasanya kita ragu atau tidak pernah mengkonsumsinya. Itu tidak berarti haram karena mungkin kita tidak tahu atau tidak biasa.

Berikut penjelasan standar –standar yang boleh dijadikan standar dalam menentukan halal dan haramnya suata makanan serta adakah dasarnya dari Al Qur’an dan Al Hadits?

Tulisan dibawah ini saya intisarikan dari kitab Raudhatullabin karangan Imam Nawawy, Albidayah wan Nihayah karangan Ibnu Rusdy dan Hasyiyah Ibnu Abidin karangan Ibnu Abidin.

Hukum asal makanan (dengan berbagai jenisnya) adalah halal kecuali apabila ada pengecualian, yaitu sebagai berikut:
1. Ada teks Al Qur’an dan Al Hadits, dan itu sangat terbatas (Babi, Arak, perasan anggur, bangkai, darah dan lainnya).

Konteks pengharaman makanan dalam Al Qur’an dan Al Hadits sangat terbatas.

2. Hewan-hewan yang diperintahkan untuk dibunuh seperti ular, kalajengking, tikus, elang dll. Hal itu berdasarkan sebuah hadist yang menyebutkan bahwa kita dianjurkan untuk membunuh tujuh hewan yaitu ular, kalajengking…dan lainnya.

Standarnya intinya adalah bahwa setiap hewan yang berbahaya dan bisa menularkan bahaya dianjurkan untuk dibunuh (standar membahayakan dan beracun)




3. Hewan yang dilarang membunuhnya seperi semut biasa (tidak beracun dan tidak mengganggu), lebah, burung laut, burung hud hud dan lainnya. Hal itu berdasarkan sebuah hadist yang menyebutkan bahwa Rasulullah menganjurkan kita untuk tidak membunuh 7 jenis hewan, yaitu semut, lebah… dan lainnya.

Standar intinya karena hewan-hewan tersebut tidak membahayakan dan tidak pula menularkan bahaya.
Saya juga pernah membaca hadist serupa yang menyebutkan tentang kodok, hewan tersebut termasuk jenis hewan yang dilarang membunuhnya tapi Imam Malik ra membolehkan memakannya dengan beberapa alasan.




4. Yang menjijikan. Standar tersebut bersumber dari firman Allah: {Mereka menanyakan kepada engkau: Apakah yang dibolehkan kepada mereka? Katakanlah: dibolehkan kepadamu yang baik-baik (Thayibat)} Almaidah: 4. Thayibat di sini bukan berarti halal tapi maksudnya adalah makanan yang baik-baik dan tidak menjijikkan. Maka tidak aneh kalau kita berdo’a minta rizki halal dan thayib selalu disandingkan “ halalan thayiban”.




5. Yang Najis. Setiap makanan yang memang asalnya najis seperti kotoran ataupun yang terkena najis adalah haram mengkonsumsinya. Dasarnya, wah untuk yang ini saya yakin semuanya sudah pada tahu, jadi tidak perlu saya jelaskan.




6. Yang membahayakan dan beracun. Contohnya seperti merokok, kokain, marijuana dan lainnya. Dasarnya adalah firman Allah: {Dan janganlah kamu jatuhkan dirimu sendiri dengan tanganmu kepada kebinasaan} Al Baqoroh: 195. dan hadist { tidak boleh memadharatkan dan mendapatkan madharat}.




Masalah kepiting laut (rajungan), saya melihat sudah menjadi makanan biasa orang Arab, bahkan orang boleh dikatakan jenis ikan yang lumayan mahal harganya.
Para ulama sendiri menyikapi masalah kepiting itu terbagi dua, ada yang menghalalkannya dan ada yang mengharamkannya, hal itu berdasarkan sudut padang yang menjijikkan dan tidaknya dan menilai hadits tentang hewan yang hidup di dua alam.


Bagi saya pribadi, apabila kepiting itu adalah kepiting laut (rajungan) maka itu halal, adapun kepiting sawah, yang biasanya suka nongol ketika kita cari belut, maka itu adalah haram (bagi yang suka, silahkan aja).Begitu juga ikan hiu, walau ia termasuk hewan yang bertaring (dalam hadits disebutkan bahwa hewan yang bertaring adalah haram hukumnya) namun boleh dimakan.


Masalah kodok tak lepas dari polemik, tak jauh beda dengan kepiting.
Untuk menyikapinya perlu dibagi dua: apabila kodok itu kodok hijau atau swikee, maka itu diperbolehkan oleh sebagian ulama tapi apabila kodok itu kodok darat yang ada bintik-bintik di atas kulitnya (bangkong buduq) maka itu adalah haram karena berpenyakit.
Bagi saya pribadi adalah haram karena saya merasa jijik dan mual, maka saya tidak memakannya.


Wallahu a’lam bishawab.


Wassalamu'alaikum wr wb




Akhukum fillah
Cecep Solehudin

Thursday, August 18, 2005

Hukum Pembajakan Hak Cipta.

Pertanyaan:


Pak Ustadz, saya amati banyak sekali pembajakan terjadi, baik itu dalam bentuk software, buku, kaset, cd dsb, kalau dibiarkan saja tentunya merugikan pemiliknya.
Yang saya ingin tanyakan bagaimana sebenarnya hukum pembajakan itu menurut Islam.
Jazakallahu khair.


-T-


Jawaban:


Assalaamu'alaikum wr wb

Sedikit penjelasan tentang pembajakan hak cipta, semoga bermanfaat.

Ulama-ulama yang yang tergabung dalam OKI (organisasi Negara-negara Islam)
yang dikenal dengan nama almajma alfiqhiy alislamy telah membahas hak cipta
dan hukumnya dalam persepsi fiqh Islam, walaupun dengan perdebatan sengit
ahirnya mereka sepakat bahwa hak cipta yang mempunyai nilai ekonomi (valuble)
adalah merupakan bagian dari harta kepemilikan dimana mencurinya atau
mengambilnya tanpa izin diharamkan, baik itu milik umat islam ataupun non islam.

ITU DALAM HAK CIPTA YANG MEMPUNYAI NILAI EKONOMI (VALUABLE)

Untuk menambah wawasan dan pengembangan, saya ingin memaparkan beberapa
kasus yang berkaitan dengan pengertian pembajakan.

Hal yang perlu disepakati dulu adalah apabila hak atau ilmu atau skill
adalah merupakan hak atau ilmu atau skill yang sudah menjadi milik umum
atau harus dimiliki umum maka memakai atau mencurinya tanpa izin adalah
tidak dilarang seperti hadits Rasulallah Saw: ada tiga hal yang tidak boleh
dimonopoli yaitu rumput, garam dan air. Atau ayat alquran yang mengharuskan
umat islam untukmenguasainya seperti dalam surat alBaqoroh ayat ():” apabila
kamu lengah atasurusan ekonomi dan persenjataan militer maka orang-orang
kafir akan berlomba-lomba untuk menghancurkanmu”

Mungkin kasus terbaru adalah masalah hak paten pembuatan tahu, tempe dan batik
yang diklaim oleh jepang dan singapura, adalah usaha untuk memonopoli hak rakyat
yang sudah dimilikinya bertahun-tahun. Maka pencurian dalam hal-hal tadi sama
sekali tidak bertentangan dengan agama karena itu adalah hak yang sudah menjadi
milik bersama.

Sebagian ulama ada yang mengharamkan mengambil upah dalam mengajarkan al Qur'an
atau ilmu-ilmu agama. Apalagi menjual ayat-ayat Allah untuk keperluan pribadi
adalah haram hukumnya karena ilmu-ilmu tersebut adalah sesuatu yang harus
dimiliki oleh setiap individu, maka klaim seseorang untuk memonopolinya tidak
punya dasar.

Ulama-ulama dulu, ambil contoh Ibnu sina dan Ibnu Rusdi yang menulis buku
tentang kedokteran yang dituangkan dalam karyanya Qonun Tib dan Alkuliyat telah
disalin ulang berjuta-juta kali oleh umat islam dan disimpan di ribuan
perpustakaan bahkan lucunya kitab tersebut diadopsi oleh barat dan dijadikan
reference dalam ilmu kedokteran dengan membuat hak cipta. (pengarangnya aja
menganjurkan orang lain untuk menyalinnya kok orang-orang barat mengklaimnya
bahkan membuat hak cipta atas buku tersebut). Maka dalam kasus tersebut
pembajakan adalah suatu keharusan.

Satu hal yang perlu disepakati adalah bahwa kekuatan hukum hak cipta adalah
hukum konvensional, adapun dalam persepesi fiqh hanya dibatasi pada hal-hal
berikut:

1.Apabila hak cipta itu dalam proses pembuatannya menggunakan dana baik untuk
bahan bakunya ataupun untuk membayar SDMnya maka hak cipta itu bagian dari harta
kepemilikan.

2.Apabila pembajakan hak cipta itu semata-mata untuk dikomersialkan sehingga ia
meraup keuntungan dengan menggunakan fasilitas orang lain. Maka dalam kasus
tersebut keharamannya sangat jelas (tapi apabila untuk kepentingan pribadi, maka
sebagian ulama ada yang membolehkannya dengan alasan tidak ada hak monopoli
dalam ilmu).

3.Apabila hak cipta itu bukan sesuatu yang menjadi milik bersama atau menjadi
keharusan untuk dimiliki oleh semua, maka menggunakannya tanpa izin sama dengan
mencuri harta orang lain.

Wallahu a’lam bishawab.

Wassalamu'alaikum wr wb


-Cecep-

Wednesday, August 17, 2005

Multi Level Marketing, bolehkah?

Pertanyaan:

Assalaamu’alaikum wr wb

Pak Ustadz, saya ingin menanyakan tentang bagaimana hukumnya dalam Islam terhadap praktek multi level marketing yang dewasa ini menjamur. Fenomena yang kita lihat akhir-akhir ini banyak sekali bisnis MLM ini melakukan penipuan, bagaimana pendapat ustadz mengenai hal ini.

Jazakallahu Khair.


Wassalaamu’alaikum wr wb

-T-



Jawaban:


Assalaamu’alaikum wr wb

Semoga Allah senantiasa menemani aktifiatas kita dan mengarahkannya pada jalan yang diridhaiNya, amin.

Sedikit informasi tentang MLM, mungkin bisa memberi gambaran
tentang status hukum transaksi MLM dari sudut pandang fiqh.

Transaksi MLM pada dasarnya dibolehkan karena merupakan komponen dari tiga bentuk transaksi yang dibolehkan oleh para ulama, yaitu:

1 - Attaukil fil bae (perwakilan dalam jual-beli), hal itu apabila objek
transaksi MLM itu adalah dalam bentuk barang, dinar(gold) dan lainnya.
2 - Attaukil fi aqdil mudharabah (perwakilan dalam akad mudharabah/ sharing in capital: money from one side and skill from another side). Hal itu apabila uang yang tekumpul digunakan untuk investasi yang hala.
3 - Ajji’alah (bonus atau upah yang dibayarkan karena target yang dicapai atau dalam istilah sekarang dikenal dengan istilah commission fee). Hal ini terjadi pada sistem pengembangan network keanggotaan MLM, semakin banyak merekrut anggota semakin banyak pula mendapatkan bonus.

Gejala penipuan via MLM akhir-akhir ini dimana MLM ini dijadikan sebagai sarana untuk merampas uang orang lain dengan cara memberi janji yang melambung & penuh kebohongan. Hal ini sebenarnya terjadi tidak mutlak salah the business owner tapi juga karena kekurang hati-hatian/kelengahan customer yang sangat mudah termakan janji business yang jelas-jelas tidak jujur ini, selain itu juga besarnya peran media masa yang memblow up bisnis yang rawan penipuan dan lemah fundamental ini.


Wallahua'lam bishawab.

Wassalamu’alaikum wr wb


-Cecep-

Friday, August 12, 2005

Artikel Islam: Wakaf & Perilaku Umat



Oleh Ust H Cecep Solehudin

Rasulallah Saw bersabda: “Apabila anak Adam meninggal maka terputuslah semua amalnya kecuali tiga perkara: shadaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak soleh yang mendoakannya” (HR. Muslim).



Imam Nawawy dalam kitabnya Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan shadoqah jariyah adalah wakaf.



Wakaf adalah menahan harta dan membagikan (memanfaatkan) hasilnya. Wakaf tidak mungkin mempunyai derajat khusus kecuali karena ia mempunyai manfaat yang besar bagi kemajuan umat. Maka suatu hal wajar apabila wakaf disamakan statusnya dengan ilmu yang bermanfaat dan anak soleh yang mendoakan orang tuanya.



Dr. Muhammad Imarah dalam salah satu artikelnya mengatakan bahwa peradaban Islam yang gemilang bukan dilahirkan oleh para penguasa, baik khalifah, sultan atau raja tapi dilahirkan oleh kreatifitas umat dan kedermawanannya (wakaf).



Hal itu bukan hal yang aneh, karena wakaf telah berperan penting dalam pengajaran dan pendidikan serta kemajuan pengetahuan. Masjid adalah batu pertama pendidikan dan pengajaran, dan tak ada masjid kecuali sebagai wakaf. Dalam masjid diajarkan Qur’an, menulis dan membaca. Disamping itu didirikan pula katatib (sekolah dasar) yaitu sejenis sekolah dasar pada masa sekarang yang mengajarkan membaca, menulis, bahasa arab dan ilmu matematika.



Kemudian dari masjid itu lahirlah beribu-ribu bahkan berjuta-juta sekolah yang melahirkan ilmuwan-ilmuwan besar seperti Abu Yusup muridnya Imam Abu Hanifah yang menjabat sebagai qodhi qudot (hakim tertinggi kerajaan Bani Abasia), Ibnu Alaa Alma’ary seorang ahli ilmu matematik, Muhammad Alkhawarijmy seorang ahli ilmu aljabar, Ibnu Sina seorang ahli kedokteran, Ibnu Hisyam seorang ahli optical dan lainnya.



Kenapa wakaf bisa melahirkan para ilmuwan sedahsyat itu? Itu semua bukan karena peran pemerintah tapi semata-mata karena peran dan sumbangsih umat yang tinggi. Sebagai contoh kerajaan (khilafah) Bani Abasiyah mempunyai tiga puluh diwan (kementerian) dalam pemerintahannya tapi dari 30 diwan itu tidak ada satupun yang mengurus tentang pendidikan karena pendidikan dikelola dengan baik dan didanai secara cukup oleh wakaf. Bahkan hal-hal sekecil apapun yang bersangkutan dengan pendidikan disediakan apalagi fasilitas pokok lainnya. Abdul Qadir Anna’imy (wafat 927 H) menjelaskan dalam kitabnya Addaaris Fittaarikh Al Madaris: “banyak wakaf pada saat itu yang dikhususkan untuk membeli alat-alat gambar untuk para pelajar dari pemuda-pemuda Makkah dan Madinah. Bahkan Ibnu Ruzaik telah mewakafkan harta untuk menyediakan pulpen, kertas dan tinta.



Salah satu faktor yang mendukung lahirnya ilmuwan hebat adalah adanya independensi dan kebebasan dalam belajar dan mengajar sehingga mereka tidak merasa tertekan dan terkekang dalam mencari kebenaran.



Para ulama dan pelajar bebas dalam mempelajari berbagai disiplin ilmu, mereka juga bebas untuk ikut bergabung dalam pendidikan baru, melontarkan masalah dan pertanyaan yang mendalam yang berhubungan dengan problematika manusia dan kehidupannya. Para penguasa yang kaya pada waktu itu ikut pula mendukungnya dengan menyiapkan kondisi yang kondusif untuk para pelajar dan pemikir dengan memberi mereka kitab-kitab yang berharga seperti kitab-kitab yang memuat pendapat-pendapat yang bertentangan dengan pendapat mayoritas atau yang bertentangan dengan penguasa pada saat itu atau pendapat-pendapat yang dianggap bid’ah menurut para fuqoha dan penguasa pada saat itu tetapi karena kondisi pemikiran yang bebas dan keinginan untuk mencari kebenaran membuat pendapat tadi bisa diterima dan dilegalkan di kemudian hari. Sebagai contoh bahwa Ibnu Ala Almaary setelah tamat belajar pada sekolah yang didanai wakaf di kota Halab, dia pergi ke Bagdad untuk menambah wawasan padahal umurnya pada saat itu 35 tahun, ia tetap mendapatkan wakaf karena ia tetap melakukan penelitian bahkan bergabung dalam diskusi-diskusi umum dan filsafat. Ia juga berusaha mengsosialisasikan pemikiran filsafatnya yang beberapa dasar idenya bertentangan dengan opini keagamaan yang berlaku pada saat itu tapi ia tetap mendapatkan subsidi dari wakaf dan tidak dihentikan.



Satu hal yang yang perlu dicatat dari perilaku mereka ilmuwan-ilmuwan yang hidup dan besar dari wakaf adalah semangat mereka untuk mencari kebenaran dimana lembaga wakaf yang telah mendanainya tidak mengikat dan mengharuskan mereka untuk membawa misi tertentu tapi an sich karena Allah dan agar mereka mentransformasikan hasil penelitian dan pencariannya kepada masyarakat umum, dan bukan untuk menjadi corong para penguasa atau donaturnya. Dalam proses pencariannya, mereka tidak takut apabila idenya itu bertentangan atau dianggap nyeleneh selama itu adalah hasil dari pencarian melalui metode riset dan uji coba.



Sekarang pemikiran tentang wakaf dianggap pemikiran yang usang dan aneh, adapun propertinya dianggap rongsokan besi yang tak terurus. Maka suatu hal yang wajar bila wakaf tidak produktif lagi dalam melahirkan ilmuwan-ilmuwan cemerlang.



Melihat sistem wakaf yang begitu canggih dan efektif, orang-orang barat mengadopsinya dan menjadikannya sebagai mesin produksi ilmuwan-ilmuwan yang handal. Mereka mendirikan lembaga-lembaga wakaf (trust foundation seperti ford foundation, Nobel foundation dll) dengan manajemen baru dan misi lama, mereka telah berhasil mengadopsi dan mengembangkannya sehingga lahirlah dari lembaga-lembaga wakaf mereka ilmuwan-ilmuwan yang hebat. juga mereka tak lupa membagikan kue wakafnya untuk umat Islam sebagai balas budi tapi dengan maksud agar mereka yang mendapatkan wakaf itu membawa misi lembaga-lembaga wakaf tadi, maka hal tidak aneh bila banyak ilmuwan muslim yang lebih loyal pada institusi barat dibanding pada agama nuraninya; agama Islam.



Itulah tantangan dan juga harapan yang harus dikemas kembali oleh umat Islam agar mesin wakaf Islam kembali berfungsi dan menghasilkan ilmuwan-ilmuwan yang handal. Hal itu tidak akan berhasil bila kita sebagai khalifah dan pengemban amanatnya tidak mau bergerak (ready, willing, able & action).



Memang masih ada secercah cahaya yang memberi harapan, lahirnya kesadaran akan pentingnya wakaf kembali. Lembaga perwakafan Kuwait, lembaga perwakafan Emirat, lembaga perwakafan yang dikelola oleh IDB Saudi Arabia dan lainnya telah mempelopori dan berusaha untuk menjalankan mesin wakaf dan memfungsikannya kembali.



Tapi hal yang paling penting adalah adakah kita punya keinginan mempunyai mesin wakaf sendiri yang bisa melahirkan tenaga-tenaga handal dan berkualitas yang akan membawa bendera Islam pada kemulyaan!

Ahlan wa Sahlan di situs konsultasi syariah




Assalaamu'alaikum wr wb

Akhowat fillah rahimakumullah,situs konsultasi syariah ini merupakan media konsultasi Islam yang dapat rekan-rekan manfaatkan bertanya seputar syariah atau apa saja berkenaan dengan ajaran Islam.

Bertindak selaku nara sumber yaitu Ustadz H Cecep Sholehudin.

Berikut ini profil beliau:

Education

2000 – 2004 Al-Azhar University, Cairo, Egypt
Master of Islamic Economics (by Research)
Thesis title: “The Investment of Endowment Wealth and Its Application in Indonesia.”
Grade: Very Good

1997 – 1999 Al-Azhar University,Cairo, Egypt
Diploma of Legal Policy

1992 – 1997 Al-Azhar University,Cairo, Egypt
Bachelor of Law and Jurisprudence

EMPLOYMENT EXPERIENCES

2005 STEI Tazkia
Jakarta, Indonesia
Dosen/Staf Pengajar


2005 LPMI (Lembaga Pembangunan Masyarakat Indonesia), Jakarta, Indonesia
Investment Risk Manager


2003 – 2004 BWKM (Badan Wakaf dan Kesejahteraan Mahasiswa)Cairo, Egypt
Investment Coordinator

2000 – 2004 PAKEIS (Centre of Islamic Economics Research) Cairo,Egypt
Economic Consultant

2004 PCI NU (Nahdatul Ulama) Cairo, Egypt
Consultant Member (Dewan Suriyah)


Vocational Courses
5-9 Jul 2003 World Assembly of Muslim Youth Cairo, Egypt
Islamic Economic in Contemporary Application

12-14 Apr 2003 Soleh Kamil Center Cairo, Egypt
The Islamic Endowment in Jurisprudence & Application

1-5 Jun 2002 Husain Sakhotah Office Cairo, Egypt
Contemporary Application of Zakah (Islamic Tax) & How to Count It in Your Wealth

7-12 Nov 1998 Husain Sakhotah Office Cairo, Egypt
Islamic Banking In Application

7-9 Sept 1997 Husain Sakhotah Office Cairo, Egypt
Islamic Economic Between Thought & Application

Academic Essays & Presentation

Academic Essays
2004 Bank Interest Controversy ( Alqawam Publishing, Solo, Indonesia)
2003 Produk-Produk Jasa Bank Islam, Teori & Praktek ( ICMI Pub. Cairo)
2001 Produk-produk Investasi Bank Islam, Teori & Praktek (ICMI Pub. Cairo)

Presentation Papers in Indonesian

Study tentang Uang dalam Perpspektif Islam
Ekonomi Global dan pengaruh pada Ekonomi Islam
Musyarakah, alternative investasi dalam Islam
Riba antara Dua Kubu
Methode Dakwah pada Lembaga-Lembaga Islam
Pluralisme Partai dalam Perspektif Islam
Akhir Dinasti Ustmaniyah
Adat: Sumber Konstitusi

Other Presentation
KPMJB Cairo, topic : Mengenal Peta Dakwah Jawa Barat
KPMJB Cairo, topic : Relevansi Misi Keagamaan dan Kebudayaan
KPMJB Cairo, topic : Pengejewantahan Norma Islam Yang Bersinggungan dengan Adat, study korelatif

Status: sudah berkeluarga, satu orang istri: Litayanti Siregar, SH(Undip) MCom(UNSW)
Sekarang bermukim di Jakarta.
Beliau juga beberapa kali menulis untuk majalah Islam Al Hijrah antara lain:
1. Almuallaf: Aqidah Revolution, Training & Strengthening
Edisi September 2004
2. Wakaf dan Perilaku Ummat
Edisi July 2005

Beberapa kali mengirim artikel-artikel Islam di mailing list pengajian kingsford dan mailing list Cahaya Islam.


Dengan ini kami (pengajian akhowat kpii selaku organiser) memberikan kesempatan kepada rekan-rekan bertanya/konsultasi seputar syariah dan Islam.
Pertanyaan dapat dikirim via sms ke 0421 484 143, ke mailing list pengajian-akhowatkpii@yahoogroups.com, ke email lisa_utami@hotmail.com

Insha Alloh baik pertanyaan rekan-rekan maupun jawaban dari Ust. Cecep akan dimuat di situs konsultasi syariah - akhowat kpii.
Beliau juga siap untuk Undangan ceramah di daerah jakarta dan sekitarnya,hubungi nomor berikut ini: +62 81321274449 atau +62 81325068284.

JazakumuLlah khairan katsiraa.


Wassalaamu'alaikum wr wb



Lisa Utami
Pelayan Pengajian Akhowat KPII
Periode Juli 2005 - Juni 2006