Friday, August 12, 2005

Artikel Islam: Wakaf & Perilaku Umat



Oleh Ust H Cecep Solehudin

Rasulallah Saw bersabda: “Apabila anak Adam meninggal maka terputuslah semua amalnya kecuali tiga perkara: shadaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak soleh yang mendoakannya” (HR. Muslim).



Imam Nawawy dalam kitabnya Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan shadoqah jariyah adalah wakaf.



Wakaf adalah menahan harta dan membagikan (memanfaatkan) hasilnya. Wakaf tidak mungkin mempunyai derajat khusus kecuali karena ia mempunyai manfaat yang besar bagi kemajuan umat. Maka suatu hal wajar apabila wakaf disamakan statusnya dengan ilmu yang bermanfaat dan anak soleh yang mendoakan orang tuanya.



Dr. Muhammad Imarah dalam salah satu artikelnya mengatakan bahwa peradaban Islam yang gemilang bukan dilahirkan oleh para penguasa, baik khalifah, sultan atau raja tapi dilahirkan oleh kreatifitas umat dan kedermawanannya (wakaf).



Hal itu bukan hal yang aneh, karena wakaf telah berperan penting dalam pengajaran dan pendidikan serta kemajuan pengetahuan. Masjid adalah batu pertama pendidikan dan pengajaran, dan tak ada masjid kecuali sebagai wakaf. Dalam masjid diajarkan Qur’an, menulis dan membaca. Disamping itu didirikan pula katatib (sekolah dasar) yaitu sejenis sekolah dasar pada masa sekarang yang mengajarkan membaca, menulis, bahasa arab dan ilmu matematika.



Kemudian dari masjid itu lahirlah beribu-ribu bahkan berjuta-juta sekolah yang melahirkan ilmuwan-ilmuwan besar seperti Abu Yusup muridnya Imam Abu Hanifah yang menjabat sebagai qodhi qudot (hakim tertinggi kerajaan Bani Abasia), Ibnu Alaa Alma’ary seorang ahli ilmu matematik, Muhammad Alkhawarijmy seorang ahli ilmu aljabar, Ibnu Sina seorang ahli kedokteran, Ibnu Hisyam seorang ahli optical dan lainnya.



Kenapa wakaf bisa melahirkan para ilmuwan sedahsyat itu? Itu semua bukan karena peran pemerintah tapi semata-mata karena peran dan sumbangsih umat yang tinggi. Sebagai contoh kerajaan (khilafah) Bani Abasiyah mempunyai tiga puluh diwan (kementerian) dalam pemerintahannya tapi dari 30 diwan itu tidak ada satupun yang mengurus tentang pendidikan karena pendidikan dikelola dengan baik dan didanai secara cukup oleh wakaf. Bahkan hal-hal sekecil apapun yang bersangkutan dengan pendidikan disediakan apalagi fasilitas pokok lainnya. Abdul Qadir Anna’imy (wafat 927 H) menjelaskan dalam kitabnya Addaaris Fittaarikh Al Madaris: “banyak wakaf pada saat itu yang dikhususkan untuk membeli alat-alat gambar untuk para pelajar dari pemuda-pemuda Makkah dan Madinah. Bahkan Ibnu Ruzaik telah mewakafkan harta untuk menyediakan pulpen, kertas dan tinta.



Salah satu faktor yang mendukung lahirnya ilmuwan hebat adalah adanya independensi dan kebebasan dalam belajar dan mengajar sehingga mereka tidak merasa tertekan dan terkekang dalam mencari kebenaran.



Para ulama dan pelajar bebas dalam mempelajari berbagai disiplin ilmu, mereka juga bebas untuk ikut bergabung dalam pendidikan baru, melontarkan masalah dan pertanyaan yang mendalam yang berhubungan dengan problematika manusia dan kehidupannya. Para penguasa yang kaya pada waktu itu ikut pula mendukungnya dengan menyiapkan kondisi yang kondusif untuk para pelajar dan pemikir dengan memberi mereka kitab-kitab yang berharga seperti kitab-kitab yang memuat pendapat-pendapat yang bertentangan dengan pendapat mayoritas atau yang bertentangan dengan penguasa pada saat itu atau pendapat-pendapat yang dianggap bid’ah menurut para fuqoha dan penguasa pada saat itu tetapi karena kondisi pemikiran yang bebas dan keinginan untuk mencari kebenaran membuat pendapat tadi bisa diterima dan dilegalkan di kemudian hari. Sebagai contoh bahwa Ibnu Ala Almaary setelah tamat belajar pada sekolah yang didanai wakaf di kota Halab, dia pergi ke Bagdad untuk menambah wawasan padahal umurnya pada saat itu 35 tahun, ia tetap mendapatkan wakaf karena ia tetap melakukan penelitian bahkan bergabung dalam diskusi-diskusi umum dan filsafat. Ia juga berusaha mengsosialisasikan pemikiran filsafatnya yang beberapa dasar idenya bertentangan dengan opini keagamaan yang berlaku pada saat itu tapi ia tetap mendapatkan subsidi dari wakaf dan tidak dihentikan.



Satu hal yang yang perlu dicatat dari perilaku mereka ilmuwan-ilmuwan yang hidup dan besar dari wakaf adalah semangat mereka untuk mencari kebenaran dimana lembaga wakaf yang telah mendanainya tidak mengikat dan mengharuskan mereka untuk membawa misi tertentu tapi an sich karena Allah dan agar mereka mentransformasikan hasil penelitian dan pencariannya kepada masyarakat umum, dan bukan untuk menjadi corong para penguasa atau donaturnya. Dalam proses pencariannya, mereka tidak takut apabila idenya itu bertentangan atau dianggap nyeleneh selama itu adalah hasil dari pencarian melalui metode riset dan uji coba.



Sekarang pemikiran tentang wakaf dianggap pemikiran yang usang dan aneh, adapun propertinya dianggap rongsokan besi yang tak terurus. Maka suatu hal yang wajar bila wakaf tidak produktif lagi dalam melahirkan ilmuwan-ilmuwan cemerlang.



Melihat sistem wakaf yang begitu canggih dan efektif, orang-orang barat mengadopsinya dan menjadikannya sebagai mesin produksi ilmuwan-ilmuwan yang handal. Mereka mendirikan lembaga-lembaga wakaf (trust foundation seperti ford foundation, Nobel foundation dll) dengan manajemen baru dan misi lama, mereka telah berhasil mengadopsi dan mengembangkannya sehingga lahirlah dari lembaga-lembaga wakaf mereka ilmuwan-ilmuwan yang hebat. juga mereka tak lupa membagikan kue wakafnya untuk umat Islam sebagai balas budi tapi dengan maksud agar mereka yang mendapatkan wakaf itu membawa misi lembaga-lembaga wakaf tadi, maka hal tidak aneh bila banyak ilmuwan muslim yang lebih loyal pada institusi barat dibanding pada agama nuraninya; agama Islam.



Itulah tantangan dan juga harapan yang harus dikemas kembali oleh umat Islam agar mesin wakaf Islam kembali berfungsi dan menghasilkan ilmuwan-ilmuwan yang handal. Hal itu tidak akan berhasil bila kita sebagai khalifah dan pengemban amanatnya tidak mau bergerak (ready, willing, able & action).



Memang masih ada secercah cahaya yang memberi harapan, lahirnya kesadaran akan pentingnya wakaf kembali. Lembaga perwakafan Kuwait, lembaga perwakafan Emirat, lembaga perwakafan yang dikelola oleh IDB Saudi Arabia dan lainnya telah mempelopori dan berusaha untuk menjalankan mesin wakaf dan memfungsikannya kembali.



Tapi hal yang paling penting adalah adakah kita punya keinginan mempunyai mesin wakaf sendiri yang bisa melahirkan tenaga-tenaga handal dan berkualitas yang akan membawa bendera Islam pada kemulyaan!

0 Comments:

Post a Comment

<< Home