Thursday, August 18, 2005

Hukum Pembajakan Hak Cipta.

Pertanyaan:


Pak Ustadz, saya amati banyak sekali pembajakan terjadi, baik itu dalam bentuk software, buku, kaset, cd dsb, kalau dibiarkan saja tentunya merugikan pemiliknya.
Yang saya ingin tanyakan bagaimana sebenarnya hukum pembajakan itu menurut Islam.
Jazakallahu khair.


-T-


Jawaban:


Assalaamu'alaikum wr wb

Sedikit penjelasan tentang pembajakan hak cipta, semoga bermanfaat.

Ulama-ulama yang yang tergabung dalam OKI (organisasi Negara-negara Islam)
yang dikenal dengan nama almajma alfiqhiy alislamy telah membahas hak cipta
dan hukumnya dalam persepsi fiqh Islam, walaupun dengan perdebatan sengit
ahirnya mereka sepakat bahwa hak cipta yang mempunyai nilai ekonomi (valuble)
adalah merupakan bagian dari harta kepemilikan dimana mencurinya atau
mengambilnya tanpa izin diharamkan, baik itu milik umat islam ataupun non islam.

ITU DALAM HAK CIPTA YANG MEMPUNYAI NILAI EKONOMI (VALUABLE)

Untuk menambah wawasan dan pengembangan, saya ingin memaparkan beberapa
kasus yang berkaitan dengan pengertian pembajakan.

Hal yang perlu disepakati dulu adalah apabila hak atau ilmu atau skill
adalah merupakan hak atau ilmu atau skill yang sudah menjadi milik umum
atau harus dimiliki umum maka memakai atau mencurinya tanpa izin adalah
tidak dilarang seperti hadits Rasulallah Saw: ada tiga hal yang tidak boleh
dimonopoli yaitu rumput, garam dan air. Atau ayat alquran yang mengharuskan
umat islam untukmenguasainya seperti dalam surat alBaqoroh ayat ():” apabila
kamu lengah atasurusan ekonomi dan persenjataan militer maka orang-orang
kafir akan berlomba-lomba untuk menghancurkanmu”

Mungkin kasus terbaru adalah masalah hak paten pembuatan tahu, tempe dan batik
yang diklaim oleh jepang dan singapura, adalah usaha untuk memonopoli hak rakyat
yang sudah dimilikinya bertahun-tahun. Maka pencurian dalam hal-hal tadi sama
sekali tidak bertentangan dengan agama karena itu adalah hak yang sudah menjadi
milik bersama.

Sebagian ulama ada yang mengharamkan mengambil upah dalam mengajarkan al Qur'an
atau ilmu-ilmu agama. Apalagi menjual ayat-ayat Allah untuk keperluan pribadi
adalah haram hukumnya karena ilmu-ilmu tersebut adalah sesuatu yang harus
dimiliki oleh setiap individu, maka klaim seseorang untuk memonopolinya tidak
punya dasar.

Ulama-ulama dulu, ambil contoh Ibnu sina dan Ibnu Rusdi yang menulis buku
tentang kedokteran yang dituangkan dalam karyanya Qonun Tib dan Alkuliyat telah
disalin ulang berjuta-juta kali oleh umat islam dan disimpan di ribuan
perpustakaan bahkan lucunya kitab tersebut diadopsi oleh barat dan dijadikan
reference dalam ilmu kedokteran dengan membuat hak cipta. (pengarangnya aja
menganjurkan orang lain untuk menyalinnya kok orang-orang barat mengklaimnya
bahkan membuat hak cipta atas buku tersebut). Maka dalam kasus tersebut
pembajakan adalah suatu keharusan.

Satu hal yang perlu disepakati adalah bahwa kekuatan hukum hak cipta adalah
hukum konvensional, adapun dalam persepesi fiqh hanya dibatasi pada hal-hal
berikut:

1.Apabila hak cipta itu dalam proses pembuatannya menggunakan dana baik untuk
bahan bakunya ataupun untuk membayar SDMnya maka hak cipta itu bagian dari harta
kepemilikan.

2.Apabila pembajakan hak cipta itu semata-mata untuk dikomersialkan sehingga ia
meraup keuntungan dengan menggunakan fasilitas orang lain. Maka dalam kasus
tersebut keharamannya sangat jelas (tapi apabila untuk kepentingan pribadi, maka
sebagian ulama ada yang membolehkannya dengan alasan tidak ada hak monopoli
dalam ilmu).

3.Apabila hak cipta itu bukan sesuatu yang menjadi milik bersama atau menjadi
keharusan untuk dimiliki oleh semua, maka menggunakannya tanpa izin sama dengan
mencuri harta orang lain.

Wallahu a’lam bishawab.

Wassalamu'alaikum wr wb


-Cecep-

0 Comments:

Post a Comment

<< Home