Monday, September 26, 2005

Penambahan nama suami pada nama istri

pertanyaannya:

Ustadz saya ingin menanyakan apakah benar tidak dibolehkan dalam Islam, kita mencantumkan nama suami dibelakang nama kita, apakah ada dalil/dasar hukumnya
di dalam Al Qur'an dan Hadist?Setahu saya, ini tidak diperbolehkan dalam Islam, karena akan mengacaukan jalur nasab. Seperti kita tahu, ada adab memberi nama
dalam Islam, dan seharusnya kita mencantumkan nama bapak kita di belakang nama kita.
Jazakallahu khair pak ustadz.

Wassalam,

D & A

Jawaban:

Saya belum pernah menemukan hukum khusus tentang penambahan nama suami pada nama istri, maka ketika ikhwan-ikhwan sibuk membicarakannya dan menjadikan sebagai bagian dari tasyabuh kepada orang-orang kafir maka saya agak sedikit kaget (mungkin karena saya belum menemukan dalilnya).
Rasulallah saw memang melarang kita untuk menyerupai syetan dan orang kafir karena ditakutkan kita menjadi pengagumnya. Larangan menyerupai itu sendiri adalah sangat relatif dan boleh jadi ditekankan pada hal-hal yang prinsipil. Dalam kata lain penyerupaan itu dilarang dalam hal yang berhubungan dengan sifat dan karakter adapun dalam hal tekhnis (strategy dan manajemen) dan urusan dunia maka hal itu tidak termasuk dalam larangannya. Sebagai contoh bahwa umar bin khathab pernah meniru gaya orang Persia dan Romawi dalam masalah bentuk uang dan masalah diwan (departemen) untuk urusan kenegaraan.
Begitu juga kondisi kita, terutama dalam hal teknologi, boleh jadi hampir mayoritas elemen teknologi meniru orang-orang kafir. Maka tak diragukan lagi, bahwa kata-kata or

ang salaf yang mengatakan: “ Carilah ilmu walau ke negeri China” cocok untuk menjustifikasi hal-hal seperti itu.
Di Mesir, orang-orang biasa memanggil Madam Muhammad atau Madam Mahmud, yaitu memanggil istrinya dengan menggunakan nama suaminya tapi dengan menambahkan awalan madam.
Saya tidak pernah melihat mereka menambahkan nama suaminya pada urusan KTP atau dokumen-dokumen penting lainnya seperti SIM, surat tanah, surat rumah dll. Mereka masih tetap menggunakan nama bapaknya setelah nama aslinya atau nama marganya.
Artinya bahwa sekedar panggilan saja penambahan nama suami pada nama istrinya adalah lumrah dan biasa di negara arab sendiri.
Adapun pemberian nama ayah/marga pada anaknya adalah semata-mata untuk mengatur sistem keturunan dan kesukuan, dan itu banyak manfaatnya terutama ketika terjadi kriminalitas bahkan juga untuk menproteksi dari terjerumusnya ke jalan yang tidak benar karena nama keluarga bisa menjadi pertimbangan dalam melakukan hal-hal yang negatif. Tapi semua itu dibolehkan dengan syarat bukan untuk ta’ashub jahiliy.
Dalam literatur sejarah Islam, seorang istri lebih banyak dipanggil dengan sebutan-sebutan kesayangan atau penghargaan atau sebutan nama anaknya. Sebagai contoh Siti Aisyah dipanggil Rasulullah saw dengan sebutan ya humairah, ya ‘Aisy bahkan setelah meninggalnya Rasulullah, beliau dipanggil umat Islam dengan panggilan Ummul Mukminin, begitu juga yang lainnya. Jadi dalam literatur sejarah arab, penambahan nama suami pada istrinya jarang ditemukan.
Adapun hukumnya, saya pribadi tidak melihat sebagai suatu penyerupaan atas orang-orang kafir karena hal itu tidak berhubungan dengan sifat dan karakter, bahkan mungkin itu sebagai tanda bahwa wanita itu miliknya si fulan (nama tambahannya itu).
Tapi alangkah baiknya, apabila kita ingin punya jati diri dan karakteristik, agar kita tidak menjadi pengagum orang-orang kafir dan pengikutnya lebih baik kita mengikuti gaya rasulullah dengan memberi panggilan khusus buat sang istri dengan sebutan yang indah seperti latifah, umaimah dll atau memanggil dengan nama panggilan anaknya seperti ummu ibrahim, ummu khalid dll.
Adapun masalah mengikuti gaya arab, selama itu adalah masalah budaya semata maka tidak ada kewajiban untuk mengikutinya tapi apabila budaya itu sudah diadopsi oleh hukum Islam maka itu adalah kewajiban yang harus kita taati seperti halnya dalam maslah bahasa arab fusha (bahasa quran) adapun untuk bahasa ‘amiyah (slanknya arab) maka kita tidak harus mengikutinya. Dan msh banyak lagi budaya-budaya arab yang diadopsi Islam selain bahasa.
Artinya bahwa panggilan akhwat, ikhwan dll adalah mempunyai makna yang mendalam dan bukan panggilan asal panggil.
Wallahua’lam bishawab.

1 Comments:

At 9:32 PM, Blogger edjackson12931215 said...

I really enjoyed your blog. This is a cool Website Check it out now by Clicking Here . I know that you will find this WebSite Very Interesting Every one wants a Free LapTop Computer!

 

Post a Comment

<< Home