Tuesday, November 08, 2005

Sholat Qosor

Pertanyaan:

Assalaamu'alaikum Ustadz,

Saya ingin bertanya tentang meringkas sholat dan kaitannya dengan musyafir. Benarkah orang yang study ke negara lain seumpama setahun diperbolehkan menjamak sholatnya selama kurun itu, ada pendapat dari teman yang mengatakan dibolehkan. Dan bagaimana batasan menjadi musyafir sebenarnya.

Jazakallahu khair atas jawabannya.

Wassalamu'alaikum wr. wb.
-akhwat-



Jawaban:

Assalamu ‘alaikum wr. Wb.

Kullu sanah wa antum thayibun.

Selamat menjalankan ibadah shaum. Ini, jawaban tentang konsultasi sholat qosor, semoga bermanfaat. Mohon maaf bila ada kurang atau kesalahan dan ini bukan sebagai kebenaran mutlak yang mengingkari kebenaran dari orang lain. Tapi insyaAllah ini adalah pendapat yang didasarkan pada Al Quran dan Al hadits.



Demikian saja.

Wassalam
Cecep S



Masalah seputar mengqosor sholat Dasar hukum mengqoshor sholat Firman Allah; {Dan kalau kamu berjalan di muka bumi, tidaklah mengapa meringkaskan (mengqasar) sembahyang...} QS. An Nisa: 101.


Meringkas sholat dalam perjalanan dinamakan dengan istilah qosor, yaitu meringkas sholat yang empat rakaat menjadi dua rakaat, adapun sholat yang tidak empat rakaat tidak boleh diqosor. Qosor adalah keringanan yang diberikan oleh Allah bagi yang melakukan perjalanan, keringanan ini disebut dengan rukhsoh (ulama Hanafiah menyebutnya dengan azimah). Rukhsoh adalah merubah perbuatan yang sulit menjadi mudah karena ada alasan syar’iy atau darurat yang menimpa pada pelakunya. Alasan syar’iy dan darurat tadi menuntut hambanya untuk tidak melakukan kewajiban yang seharusnya dilakukan secara normal, hal itu untuk kemashlahatannya atau untuk menjauhkannya dari madharat yang mungkin menimpanya.

Jarak tempuh perjalanan yang membolehkan qosor sholat


Para ulama fiqh berbeda pendapat tentang batas minimal jarak perjalanan yang boleh untuk melakukan qosor sholat:


Abu Hanifah berpendapat bahwa batas minimal dibolehkannya melakukan sholat qosor adalah 3 hari perjalanan siang-malan yang ditempuh secara normal dan dengan menggunakan unta. Apabila jarak tersebut bisa ditempuh hanya dalam satu hari saja maka ia boleh melakukan sholat qosor dan sebaliknya apabila 1/3 dari jarak perjalanan itu ditempuh dengan lama 3 hari maka ia tidak boleh melakukan qosor karena hanya menempuh 1/3 jarak perjalanan yang dibolehkan untuk mengqosor sholat. Adapun menurut imam Syafii bahwa batas minimal perjalanan yang diperbolehkan sholat qosor adalah 48 mil (80 km lebih sedikit) atau perjalanan kaki yang memakan waktu selama dua hari dua malam dengan perjalanan yang normal.

Di samping dua pendapat di atas, ada juga pendapat ulama-ulama lain yang menerangkan batas minimal jarak yang lebih pendek dibanding pendapat diatas bahkan ada juga yang mengatakan bahwa sekedar melakukan perjalanan biasa saja itu sudah cukup untuk dibolehkannya melakukan sholat qosor. Pendapat tersebut walaupun ada dasarnya (salah satunya dari Ibnu Abas) tapi bobot dan validitas haditsnya banyak dipertanyakan di samping bertentangan dengan hikmah dilegalkannya rukhsoh. Menurut hemat saya: bahwa setiap perjalanan yang meletihkan, menempuh jarak yang jauh atau memakan waktu yang lama bila ditempuh dengan jalan kaki atau kendaraan hewan adalah perjalanan yang membolehkan kita untuk melakukan sholat qosor. Adapun bila jaraknya dekat dan tidak meletihkan maka dalam kondisi tersebut tidak boleh melakukan sholat qosor. Berbeda halnya apabila jaraknya jauh tapi karena kemajuan alat tranportasi maka dalam kondisi ini, ia boleh memilih antara mengqosor atau menyempurnakannya.

Hukum melakukan qosor sholat


Imam Abu Hanifah menyebut istilah rukhsoh (keringanan) dengan istilah azimah (keharusan), artinya pemberian yang harus diambil. Maka menurut pendapat beliau bahwa sholat qosor bagi orang yang menempuh perjalanan selama 3 hari 3 malam hukumnya adalah wajib. Hal itu berdasarkan hadits rasulallah saw: {bahwa qosor sholat itu adalah sodaqoh dari Allah maka terimalah sodaqohNya} HR Muslim. Adapun menurut Imam Syafii bahwa hukumnya adalah bebas memilih, baik dengan mengqosor ataupun dengan menyempurnakan empat rakaat, hal itu berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Siti Aisyah ra, Utsman bin Affan ra yang mana keduanya terkadang melakukan qosor dan terkadang menyempurnakannya tanpa ada sanggahan dari rasulallah saw, dll.

Menyikapi kondisi perjalanan dan alat transportasi pada masa kini


Allah swt telah membolehkan kita untuk meringkas sholat dalam perjalanan dan Dia tidak menentukan dalam jarak berapakah meringkas sholat itu dibolehkan. Tapi inti dari adanya rukhsoh itu adalah dibolehkannya melakukan qosor sholat pada setiap perjalanan. Untuk itu para ulama fiqh berbeda pendapat tentang maksud perjalanan yang bisa mengqosor sholat sebagaimana yang disebutkan dalam al Quran tadi dan mereka juga berbeda pendapat tentang jumlah jarak yang boleh melakukan sholat qoshor. Adapun titik temu dari pendapat para ulama tadi terletak pada setiap jarak perjalanan yang biasanya ditempuh musafir secara normal dengan jalan kaki/unta yang mana perjalanan tersebut meletihkan musafir. Itulah jarak yang dibolehkan untuk melakukan sholat qosor.

Berangkat dari penjelasan tadi jelaslah bahwa setiap orang yang menempuh perjalanan dengan jarak yang biasanya meletihkan musafir bila ditempuh dengan jalan kaki/unta adalah jarak yang membolehkan pelakunya untuk melakukan qosor sholat. Untuk kondisi sekarang, baik perjalanan itu ditempuh dengan pesawat, kereta api, mobil, kuda atau jalan kaki atau perjalanan itu menghabiskan waktu dalam hitungan menit, jam, hari atau mingguan selama menempuh jarak tadi maka ia boleh mengqosor sholat. Tapi apabila perjalanannya sudah berhenti dan dia sudah tidak melakukan lagi perjalanan maka dia tidak berhak lagi untuk menggunakan rukhsoh itu. Jadi standarnya adalah jarak lama yang sudah ditentukan ulama terdahulu (dengan memilih salah satu pendapatnya) walaupun ia menempuhnya dalam hitungan menit, dan bukan ditentukan dari kecepatan alat transportasinya.

Hilangnya hak rukhsoh dalam mengqosor sholat


Hak untuk melakukan qosor sholat menjadi hilang apabila ada tiga hal berikut ini:
- Apabila ia kembali ke tempat asal menetapnya
- Apabila ia berniat untuk menetap di tempat yang menjadi tujuannya tersebut, baik sementara ataupun untuk selamanya, yaitu berniat meneteap lebih dari empat hari.
- Apabila ditengah perjalanannya mendapatkan pekerjaan atau ada bisnis atau lainnya yang tidak bisa diselesaikan kurang dari empat hari, maka dalam kondisi seperti ini ada tiga pendapat ulama:

Pendapat pertama: dia berhak mengqosor hanya dalam waktu empat hari saja, setelah itu ia kembali seperti orang menetap.

Pendapat kedua: ia boleh mengqosor selamanya (pendapat yang paling lemah dan jarang dipraktekan oleh para ulama karena tidak sesuai dengan hikmah dilegalkannya qosor solat)

Pendapat ketiga: ia boleh mengqosornya hanya dalam waktu 20 hari saja.

Kesimpulan

Rukhsoh adalah keringanan yang diberikan oleh Allah swt. Kita berhak memilih salah satunya yang sekira-kiranya membuat hati tenang dan puas serta mudah dalam menjalankan ibadah kita. Apabila dengan mentaqshir sholat itu, hati kita merasa lebih puas dan tenang serta lebih mudah dalam pelaksanaannya, maka itulah yang harus kita pilih dan sebaliknya apabila dengan menyempurnakannya empat rokaat membuat hati kita lebih tenang, puas dan juga mudah dalam menjalankannya maka itulah pilihan yang kita jalankan.

Adapun orang yang lagi transit maka hukumnya adalah seperti orang yang sedang melakukan perjalanan. Dan lamanya transitnya itu ditentukan oleh tradisi perjalanan, baik itu dalam hitungan jam ataupun dalam hitungan harian. Sebagai catatan bahwa tidak disebut transit apabila orang menghabiskan waktunya selama satu bulan apalagi sampai satu tahun dalam suatu daerah/ tempat karena kondisi seperti itu menurut ulama sudah disebut muqim (menetap), baik untuk sementara ataupun untuk selamanya dimana ia sudah tidak berhak lagi untuk mentaqsir sholat. Begitu pula halnya status student yang sudah mendapat student visa, ia tidak dianggap lagi tourist tapi sudah dianggap temporary resident.

Wallahu ‘alam bishawab

Reference

- Ibnu ‘Asyur, Muhammad, Maqoshid Assyariah Al islamiyah, Jordan, Dar An Nafais, 2001
- Ismail Kaukasal, DR, Tagorrul Ahkam fi Assyariah Al Islamiyah, Beirut, Muassasah Arrisalah, 2000.
- Azzamahsyary, Abi al Qosim, Al kasyaf, Cairo, Maktabah Misr, tanpa tahun.
- Adnan M. Jum’ah, DR, Raf’ul haraj, Beirut, Muassasah Arrisalah, 1993.
- Al Hushony, Imam, Kifayatul Akhyar, Cairo, Maktabah Attaufiqiyah, tanpa tahun.
- An Naway, Imam, Raudhatut Talibhin, Beirut, Dar al Kutub al Ilmiyah, 2000.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home