Tuesday, November 08, 2005

Hukum Anak Angkat dan Status Kemuhrimannya

Pertanyaan:

Assalaamu'alaikum wr wb

Pak Ustadz, saya mau tanya bagaimana hukumnya mengangkat anak dalam Islam dan status kemuhrimannya?
Jazakallahu khair.


Wassalaamu'alaikum wr wb



Wini


Jawaban:

Assalamu’alaikum

Kullu sanah wa antum bikhair wa wafaqonallah ila
aqwamithariq, amin.

Ini jawaban tentang hukum mengangkat anak dan status
kemuhrimannya, semoga bisa memberi solusi walau belum
tentu sempurna karena kesempurnaan itu hanya milik
Allah.

Sengaja ana tidak membahas masalah batasan muhrim dan
non muhrim karna hal itu mungkin sudah tidak
memerlukan lagi penjelasan, seperti halnya batasan ke
non-muhriman anak angkat.

Demikian dulu dari ana, atas segala kekurangan dan
kesalahannya mohon maaf.


Wassalam
Akhukum fillah
Cecep Solehudin

Hukum Anak Angkat Dan Status Kemuhrimannya


Nasab (keturunan karena pertalian darah) adalah pondasi ikatan keluarga yang paling kuat yang bisa menyatukan anggotanya secara permanen dengan berdasarkan pada kesamaan darah, gen dan turunan. Seorang anak adalah bagian dari bapaknya dan begitu pula seorang bapak adalah bagian dari anaknya.


Ikatan nasab adalah sulaman keluarga yang sangat kokoh dan mempunyai ikatan yang sangat kuat karena dengannya lahirlah perasaan sayang dan rasa memiliki antara anggotanya. Oleh karena itu Allah telah mengkokohkan keberadaan manusia dengan nasab sebagaimana disebutkan dalam firmanNya: {Dan Dia yang menciptakan manusia dari air, lalu diadakannya pertalian darah dan hubungan perkawinan, dan Tuhan itu Maha Kuasa} Al Furqon: 54.


Oleh karena itu, Islam melarang seorang bapak untuk mengingkari penisbatan anaknya kepadanya, dan melarang seorang ibu untuk menisbatkan anaknya kepada orang yang yang bukan bapaknya. Begitu pula Islam melarang menisbatkan anak-anak kepada orang yang bukan bapaknya. Dalam hal ini Rasulullah saw bersabda: {Barang siapa yang menisbatkan anak kepada orang tua yang bukan bapaknya padahal ia tahu bahwa ia adalah bukan bapaknya, maka surga haram baginya} HR. Ahmad, Bukhori, Muslim, Abu Daud dan Ibnu Majah. Dalam sabda lain disebutkan: {Barang siapa yang menisbatkan anaknya kepada orang yang bukan bapaknya atau membuat pengabdian (mawali) bukan kepada majikan aslinya, maka ia akan mendapatkan kutukan yang berkelanjutan sampai hari kiamat}. HR. Abu Daud.


Berangkat dari uraian di atas, jelaslah bahwa Islam telah melarang sistem tabanny (mengangkat anak) dan membatalkan sistem yang telah dipraktekkan pada masa jahiliyah dan masa awal Islam itu.


Rasulullah saw sebelum masa kenabian telah mengangkat Zaid bin Haritsah sebagai anak angkatnya, kemudian setelah itu, orang-orang memanggilnya nama “ Zaid bin Muhammad”.


Zaid bin Haritsah adalah seorang hamba sahaya dari suku Kalb yang dibeli Hakim bin Hizam untuk dihadiahkan kepada Bibinya Siti khadijah, kemudian ketika Siti Khadijah menikah dengan Nabi Muhammad, ia menghadiahkannya kepada suaminya. Pada saat Bapak Zaid dan pamannya datang untuk meminta Rasulullah menyembalikannya, Rasulullah saw memberikan kebebasan kepada Zaid untuk memilih antara keluarganya atau bersamanya tapi Zaid memilih untuk tetap bersama Rasulullah saw, kemudian beliau membebaskannya. Sejak itulah orang-orang memanggilnya Zaid bin Muhammad.
Tapi keadaan itu tidak berlangsung lama, karena Allah swt telah menurunkan perintahnya yang melarang sistem tabanny dan membatalkan prakteknya, dalam firmanNya: {...dan tiada pula anak angkatmu menjadi anakmu. Itu hanyalah perkataanmu dengan mulutmu saja. Allah mengatakan kebenaran dan Dia menunjukkan jalan (yang benar). Panggillah mereka (anak-anak angkat) menurut (nama) bapaknya, hal itu lebih adil pada sisi Allah. Kalau kamu tiada mengetahui bapaknya, mereka menjadi saudara kamu dalam agama dan maula (pengabdi) kamu} Al Ahzab: 4-5.
Kemudian larangan dan pembatalan itu dipertegas lagi dalam bentuk perintah Allah kepada nabiNya untuk menikahi janda bekas anak angkatnya, hal itu untuk menghapus kebiasaan dan dampak dari status anak angkat karena dengan mempersunting janda bekas anak angkatnya, hilangnya bekas dan status keanakangkatannya Zaid bin Haritsah. firmanNya: {Dan setelah Zaid menyampaikan keperluannya kepada perempuannya itu (menceraikannya). Kami kawinkan dia dengan engkau supaya (di masa datang) tiada keberatan lagi bagi orang-orang yang beriman (mengawini) isteri-isteri anak angkat mereka, apabila mereka telah menyampaikan kepada perempuan-perempuan itu keperluannya (menceraikannya). Dan perintah Allah itu mestilah dijalankan} Al ahzab: 37.


Larangan untuk mengangkat anak dan menjadikannya sebagai anak sendiri adalah sebagai bentuk keadilan dan kebenaran yang harus ditegakan untuk semua pihak, dan hal itu bukan untuk menghalangi umat Islam dalam membantu dan meringankan beban orang lain atau dalam melakukan kebaikan lain, secara khususnya dalam mengurus dan mendidik anak yang tidak ber-orang tua atau mengurus dan mendidik anak yang orang tuanya tidak mampu. Hal itu bisa dilakukan melalui sistem yang disebut dengan istilah takaful atau kafil (pengasuh) anak yang tidak ber-orang tua atau yang berorang tua tapi tidak mempunyai kemampuan mendidik dan mengurusnya.
Menjadi seorang kafil adalah prilaku yang sangat mulya dan mendapatkan kedudukan yang maha tinggi, hal itu terungkap dalam sabda Rasulullah saw: {saya dan kafil/pengasuh anak yatim berada di surga seperti ini, beliau menunjukan telunjuk dan jari tengahnya...} HR. Bukhory.


Menjadi kafil anak yang tidak mampu atau menjadi kafil bagi anak yang tidak ber-orang tua adalah alternatif dari menjadi bapak angkat. Menjadi kafil berbeda maknanya dengan menjadi bapak angkat karena menjadi kafil adalah mendidik anak dan mengurus sampai mereka menjadi anak yang dewasa dan mampu tanpa menjadikana anak tersebut sebagai anak kandungnya dan menyamakannya dalam warisan, gen, pertalian darah serta menisbatkan nama anak kepadanya seolah sebagai anak kandungnya (bapak asli). Biarkanlah ia tetap menisbatkan namanya kepada bapaknya yang asli dan mendapatkan limpahan rizkinya dari kedermawanan bapak pengasuhnya sebagai sedekah dan bukan sebagai warisan karena anak asuh (atau yang dikenal dengan anak angkat) adalah bukan anak kandung dan berbeda dengan anak kandung dalam banyak hal.


Karena anak asuh (anak angkat) bukan sebagai anak sendiri, maka diapun harus diperlakukan sebagai orang non muhrim apabila ia hidup bersama kita (kecuali apabila ia diberi susu –ASI- sejak kecil) walaupun mempunyai kedekatan emosional kasih sayang yang sangat dekat, tapi tetap saja dia adalah non muhrim bagi orang tua asuhnya.


Maka apabila ia telah menjadi dewasa, maka perlakukanlah dia seperti non muhrim, baik dalam hal pernikahan, menjaga aurat, menjaga pergaulan dan lainnya.
Apabila ia masih tetap tinggal bersama orang tua asuhnya, maka hal-hal di atas tetap harus diperhatikan dan ditaati. Dan itu bisa dilakukan tanpa berjauhan selama komitmen menjalankan syariat tertanam dalam jiwanya.


Wallahu a’lam.


Reference:
- DR. Wahbah Juhaily, Al fiqh Al Islamy wa Adilllatuhu.
- Az Zamahsyary, Tafisr al Kasyaaf.

Sholat Qosor

Pertanyaan:

Assalaamu'alaikum Ustadz,

Saya ingin bertanya tentang meringkas sholat dan kaitannya dengan musyafir. Benarkah orang yang study ke negara lain seumpama setahun diperbolehkan menjamak sholatnya selama kurun itu, ada pendapat dari teman yang mengatakan dibolehkan. Dan bagaimana batasan menjadi musyafir sebenarnya.

Jazakallahu khair atas jawabannya.

Wassalamu'alaikum wr. wb.
-akhwat-



Jawaban:

Assalamu ‘alaikum wr. Wb.

Kullu sanah wa antum thayibun.

Selamat menjalankan ibadah shaum. Ini, jawaban tentang konsultasi sholat qosor, semoga bermanfaat. Mohon maaf bila ada kurang atau kesalahan dan ini bukan sebagai kebenaran mutlak yang mengingkari kebenaran dari orang lain. Tapi insyaAllah ini adalah pendapat yang didasarkan pada Al Quran dan Al hadits.



Demikian saja.

Wassalam
Cecep S



Masalah seputar mengqosor sholat Dasar hukum mengqoshor sholat Firman Allah; {Dan kalau kamu berjalan di muka bumi, tidaklah mengapa meringkaskan (mengqasar) sembahyang...} QS. An Nisa: 101.


Meringkas sholat dalam perjalanan dinamakan dengan istilah qosor, yaitu meringkas sholat yang empat rakaat menjadi dua rakaat, adapun sholat yang tidak empat rakaat tidak boleh diqosor. Qosor adalah keringanan yang diberikan oleh Allah bagi yang melakukan perjalanan, keringanan ini disebut dengan rukhsoh (ulama Hanafiah menyebutnya dengan azimah). Rukhsoh adalah merubah perbuatan yang sulit menjadi mudah karena ada alasan syar’iy atau darurat yang menimpa pada pelakunya. Alasan syar’iy dan darurat tadi menuntut hambanya untuk tidak melakukan kewajiban yang seharusnya dilakukan secara normal, hal itu untuk kemashlahatannya atau untuk menjauhkannya dari madharat yang mungkin menimpanya.

Jarak tempuh perjalanan yang membolehkan qosor sholat


Para ulama fiqh berbeda pendapat tentang batas minimal jarak perjalanan yang boleh untuk melakukan qosor sholat:


Abu Hanifah berpendapat bahwa batas minimal dibolehkannya melakukan sholat qosor adalah 3 hari perjalanan siang-malan yang ditempuh secara normal dan dengan menggunakan unta. Apabila jarak tersebut bisa ditempuh hanya dalam satu hari saja maka ia boleh melakukan sholat qosor dan sebaliknya apabila 1/3 dari jarak perjalanan itu ditempuh dengan lama 3 hari maka ia tidak boleh melakukan qosor karena hanya menempuh 1/3 jarak perjalanan yang dibolehkan untuk mengqosor sholat. Adapun menurut imam Syafii bahwa batas minimal perjalanan yang diperbolehkan sholat qosor adalah 48 mil (80 km lebih sedikit) atau perjalanan kaki yang memakan waktu selama dua hari dua malam dengan perjalanan yang normal.

Di samping dua pendapat di atas, ada juga pendapat ulama-ulama lain yang menerangkan batas minimal jarak yang lebih pendek dibanding pendapat diatas bahkan ada juga yang mengatakan bahwa sekedar melakukan perjalanan biasa saja itu sudah cukup untuk dibolehkannya melakukan sholat qosor. Pendapat tersebut walaupun ada dasarnya (salah satunya dari Ibnu Abas) tapi bobot dan validitas haditsnya banyak dipertanyakan di samping bertentangan dengan hikmah dilegalkannya rukhsoh. Menurut hemat saya: bahwa setiap perjalanan yang meletihkan, menempuh jarak yang jauh atau memakan waktu yang lama bila ditempuh dengan jalan kaki atau kendaraan hewan adalah perjalanan yang membolehkan kita untuk melakukan sholat qosor. Adapun bila jaraknya dekat dan tidak meletihkan maka dalam kondisi tersebut tidak boleh melakukan sholat qosor. Berbeda halnya apabila jaraknya jauh tapi karena kemajuan alat tranportasi maka dalam kondisi ini, ia boleh memilih antara mengqosor atau menyempurnakannya.

Hukum melakukan qosor sholat


Imam Abu Hanifah menyebut istilah rukhsoh (keringanan) dengan istilah azimah (keharusan), artinya pemberian yang harus diambil. Maka menurut pendapat beliau bahwa sholat qosor bagi orang yang menempuh perjalanan selama 3 hari 3 malam hukumnya adalah wajib. Hal itu berdasarkan hadits rasulallah saw: {bahwa qosor sholat itu adalah sodaqoh dari Allah maka terimalah sodaqohNya} HR Muslim. Adapun menurut Imam Syafii bahwa hukumnya adalah bebas memilih, baik dengan mengqosor ataupun dengan menyempurnakan empat rakaat, hal itu berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Siti Aisyah ra, Utsman bin Affan ra yang mana keduanya terkadang melakukan qosor dan terkadang menyempurnakannya tanpa ada sanggahan dari rasulallah saw, dll.

Menyikapi kondisi perjalanan dan alat transportasi pada masa kini


Allah swt telah membolehkan kita untuk meringkas sholat dalam perjalanan dan Dia tidak menentukan dalam jarak berapakah meringkas sholat itu dibolehkan. Tapi inti dari adanya rukhsoh itu adalah dibolehkannya melakukan qosor sholat pada setiap perjalanan. Untuk itu para ulama fiqh berbeda pendapat tentang maksud perjalanan yang bisa mengqosor sholat sebagaimana yang disebutkan dalam al Quran tadi dan mereka juga berbeda pendapat tentang jumlah jarak yang boleh melakukan sholat qoshor. Adapun titik temu dari pendapat para ulama tadi terletak pada setiap jarak perjalanan yang biasanya ditempuh musafir secara normal dengan jalan kaki/unta yang mana perjalanan tersebut meletihkan musafir. Itulah jarak yang dibolehkan untuk melakukan sholat qosor.

Berangkat dari penjelasan tadi jelaslah bahwa setiap orang yang menempuh perjalanan dengan jarak yang biasanya meletihkan musafir bila ditempuh dengan jalan kaki/unta adalah jarak yang membolehkan pelakunya untuk melakukan qosor sholat. Untuk kondisi sekarang, baik perjalanan itu ditempuh dengan pesawat, kereta api, mobil, kuda atau jalan kaki atau perjalanan itu menghabiskan waktu dalam hitungan menit, jam, hari atau mingguan selama menempuh jarak tadi maka ia boleh mengqosor sholat. Tapi apabila perjalanannya sudah berhenti dan dia sudah tidak melakukan lagi perjalanan maka dia tidak berhak lagi untuk menggunakan rukhsoh itu. Jadi standarnya adalah jarak lama yang sudah ditentukan ulama terdahulu (dengan memilih salah satu pendapatnya) walaupun ia menempuhnya dalam hitungan menit, dan bukan ditentukan dari kecepatan alat transportasinya.

Hilangnya hak rukhsoh dalam mengqosor sholat


Hak untuk melakukan qosor sholat menjadi hilang apabila ada tiga hal berikut ini:
- Apabila ia kembali ke tempat asal menetapnya
- Apabila ia berniat untuk menetap di tempat yang menjadi tujuannya tersebut, baik sementara ataupun untuk selamanya, yaitu berniat meneteap lebih dari empat hari.
- Apabila ditengah perjalanannya mendapatkan pekerjaan atau ada bisnis atau lainnya yang tidak bisa diselesaikan kurang dari empat hari, maka dalam kondisi seperti ini ada tiga pendapat ulama:

Pendapat pertama: dia berhak mengqosor hanya dalam waktu empat hari saja, setelah itu ia kembali seperti orang menetap.

Pendapat kedua: ia boleh mengqosor selamanya (pendapat yang paling lemah dan jarang dipraktekan oleh para ulama karena tidak sesuai dengan hikmah dilegalkannya qosor solat)

Pendapat ketiga: ia boleh mengqosornya hanya dalam waktu 20 hari saja.

Kesimpulan

Rukhsoh adalah keringanan yang diberikan oleh Allah swt. Kita berhak memilih salah satunya yang sekira-kiranya membuat hati tenang dan puas serta mudah dalam menjalankan ibadah kita. Apabila dengan mentaqshir sholat itu, hati kita merasa lebih puas dan tenang serta lebih mudah dalam pelaksanaannya, maka itulah yang harus kita pilih dan sebaliknya apabila dengan menyempurnakannya empat rokaat membuat hati kita lebih tenang, puas dan juga mudah dalam menjalankannya maka itulah pilihan yang kita jalankan.

Adapun orang yang lagi transit maka hukumnya adalah seperti orang yang sedang melakukan perjalanan. Dan lamanya transitnya itu ditentukan oleh tradisi perjalanan, baik itu dalam hitungan jam ataupun dalam hitungan harian. Sebagai catatan bahwa tidak disebut transit apabila orang menghabiskan waktunya selama satu bulan apalagi sampai satu tahun dalam suatu daerah/ tempat karena kondisi seperti itu menurut ulama sudah disebut muqim (menetap), baik untuk sementara ataupun untuk selamanya dimana ia sudah tidak berhak lagi untuk mentaqsir sholat. Begitu pula halnya status student yang sudah mendapat student visa, ia tidak dianggap lagi tourist tapi sudah dianggap temporary resident.

Wallahu ‘alam bishawab

Reference

- Ibnu ‘Asyur, Muhammad, Maqoshid Assyariah Al islamiyah, Jordan, Dar An Nafais, 2001
- Ismail Kaukasal, DR, Tagorrul Ahkam fi Assyariah Al Islamiyah, Beirut, Muassasah Arrisalah, 2000.
- Azzamahsyary, Abi al Qosim, Al kasyaf, Cairo, Maktabah Misr, tanpa tahun.
- Adnan M. Jum’ah, DR, Raf’ul haraj, Beirut, Muassasah Arrisalah, 1993.
- Al Hushony, Imam, Kifayatul Akhyar, Cairo, Maktabah Attaufiqiyah, tanpa tahun.
- An Naway, Imam, Raudhatut Talibhin, Beirut, Dar al Kutub al Ilmiyah, 2000.